<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Indonesian Islamic Philology</title>
	<atom:link href="http://naskahkuno.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://naskahkuno.wordpress.com</link>
	<description>On manuscripts, Islam, and Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 01:19:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='naskahkuno.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Indonesian Islamic Philology</title>
		<link>http://naskahkuno.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://naskahkuno.wordpress.com/osd.xml" title="Indonesian Islamic Philology" />
	<atom:link rel='hub' href='http://naskahkuno.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gempa, Manuskrip, dan Pemilukada di Aceh</title>
		<link>http://naskahkuno.wordpress.com/2012/01/16/gempa-manuskrip-dan-pemilukada-di-aceh/</link>
		<comments>http://naskahkuno.wordpress.com/2012/01/16/gempa-manuskrip-dan-pemilukada-di-aceh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 00:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oman Fathurahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Pers Archive]]></category>
		<category><![CDATA[Posting in Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naskahkuno.wordpress.com/2012/01/16/gempa-manuskrip-dan-pemilukada-di-aceh</guid>
		<description><![CDATA[Versi lebih ringkas tulisan ini terbit di Koran Republika, Sabtu 14 Januari 2012. Foto oleh Tim TUFS-MANASSA-PKPM: catatan tentang gempa dahsyat kedua di Aceh pada Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H/3 November 1832 M, MS Zawiyah Tanoh Abee No. 153/163/Fk-69/TA/2006. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Saya baru beberapa puluh menit saja memejamkan mata ketika gempa 7.1 skala Richter dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=838&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2012/01/gempa.jpg"><img src="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2012/01/gempa.jpg?w=215" alt="" border="0" /></a>Versi lebih ringkas tulisan ini terbit di <a href="http://koran.republika.co.id/koran/24/152147/Gempa_Manuskrip_dan_Pemilukada_di_Aceh"><em>Koran Republika</em></a>, Sabtu 14 Januari 2012.</p>
<div><span class="Apple-style-span" style="font-size:85%;">Foto oleh Tim TUFS-MANASSA-PKPM: catatan tentang gempa dahsyat kedua di Aceh pada Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H/3 November 1832 M, MS Zawiyah Tanoh Abee No. 153/163/Fk-69/TA/2006.</span></p>
<div>
<div>
<div>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</div>
<div>
<p>Saya baru beberapa puluh menit saja memejamkan mata ketika gempa 7.1 skala Richter dan berpotensi tsunami di Aceh itu mengguncang pada Rabu (11/1-2012) pukul 01.36 WIB, dan membuat saya terbangun. Itu adalah malam pertama para tamu dari dalam dan luar negeri mendarat di Banda Aceh untuk sebuah international workshop bertemakan “From Anatolia to Aceh: Ottomants, Turks, and Southeast Asia” pada dua hari berikutnya. Workshop ini diselenggarakan oleh International Center for Aceh and India Ocean Studies (ICAIOS), bekerja sama dengan British Institute at Ankara, ASEASUK, dan Pemerintah NAD.</p>
<p>Topik gempa besar di Aceh yang sempat membuat kepanikan, terutama di Meulaboh, itu kemudian menghiasi obrolan kami saat sarapan pagi dan setiap coffee break, mulai dari obrolan ringan belaka sampai dikaitkan dengan kajian akademis. Fiona Kerlogue dari the Horniman Museum, Inggris, mengaku <em>shock</em> dan tidak bisa tidur sampai malam berikutnya, meski KAWASHIMA Midori dari Sophia University, Tokyo tampak tenang-tenang saja, mungkin karena di Jepang biasa terjadi gempa yang lebih besar…☺<br />
<span id="more-838"></span><br />
Anthony Reid, sejarawan senior tentang Asia Tenggara dari Australian National University (ANU), adalah salah seorang yang paling bersemangat membicarakan sejarah dan antropologi gempa, terkait rencananya menulis artikel terkait topik tersebut. Menurutnya, berbeda dengan di Jepang, tradisi pencatatan dan dokumentasi sejarah gempa di Nusantara tidak terlalu baik, sehingga cukup sulit mengetahui siklus gempa yang terjadi di Nusantara ratusan tahun lalu.</span></p>
<p>Saya beruntung memiliki sejumlah informasi terkait gempa dari sumber primer berupa manuskrip-manuskrip tulisan tangan abad 18 dan 19, yang tercecer dan terhimpun secara tidak sengaja selama bertahun-tahun menekuni bidang kajian manuskrip Nusantara, dan atas kebaikan kawan-kawan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) di lapangan, terutama kawan-kawan di Aceh dan Minangkabau.</p>
<p>Bersama Azyumardi Azra dan teman-teman di Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM), saya membincangkan kejayaan plus kekayaan manuskrip Nusantara kita itu di warung kopi Banda Aceh, kaitannya dengan kajian Islam (<span style="font-style:italic;">Islamic studies</span>).</p>
<p>Dari berbagai goresan tangan orang terdahulu di Nusantara, wilayah Nusantara, khususnya Aceh, Minangkabau, dan sekitarnya sepertinya memang menjadi wilayah langganan gempa.</p>
<p>Dalam sebuah manuskrip asal abad 19 di Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, terdapat catatan dalam bahasa Arab berbunyi: “<span style="font-style:italic;">wa-kanat al-zalzalah al-syadidah al-tsaniyah fajr yawm al-khamis tis’ah ayyam min jumad al-akhir sanah 1248 min hijrah al-nabawiyah</span>…”. Catatan tersebut menunjukkan pernah terjadi gempa besar untuk kedua kalinya pada pagi hari Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H/3 November 1832 M (Fathurahman dkk 2010: xx).</p>
<p>Bukti lain seringnya terjadi gempa di bumi kita pada masa lalu adalah dijumpainya sejumlah manuskrip tentang “takwil gempa” dalam bahasa Melayu menggunakan aksara Jawi, seperti manuskrip <span style="font-style:italic;">Tabir Gempa</span> di Perpustakaan Ali Hasjmy, Banda Aceh (Fathurahman &amp; Holil 2007: 274-275), <span style="font-style:italic;">Ramalan Tentang Gempa</span> di Perpustakaan Nasional Jakarta (Behrend [ed.] 1998: 291), dan <span style="font-style:italic;">Takwil Gempa</span> di Surau Lubuk Ipuh, Padang Pariaman, Sumatra Barat.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Kearifan Lokal Takwil Gempa</span><br />
Ternyata, menurut orang-orang tua terdahulu, setiap gempa yang terjadi sebetulnya membawa pesan tertentu bagi umat manusia, entah itu pesan menggembirakan atau sebaliknya.</p>
<p>Salah satu bagian dari manuskrip <span style="font-style:italic;">Takwil Gempa</span> asal abad 19 Surau Lubuk Ipuh di atas, yang sudah dikaji oleh Zuriati dkk (2008), misalnya menjelaskan bahwa: “<span style="font-style:italic;">…dan jika pada bulan Dzulqadah…dan jika pada waktu duha, alamatnya bala [musibah] banyak akan datang ke dalam negeri itu…</span>”. Seperti kita ketahui, gempa dan tsunami di Aceh, yang menewaskan hampir 200 ribu korban jiwa, terjadi pada Minggu pagi waktu duha, 26 Desember 2004, atau 14 Zulkadah 1425 Hijriah!</p>
<div><span class="fullpost"><br />
</span></div>
<div>
<p><span class="fullpost">Saya meyakini bahwa itu bukan malapetaka, apalagi azab sang Pencipta, melainkan musibah kemanusiaan akibat peristiwa alam yang terjadi di luar kehendak dan kontrol manusia!</span></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><span class="fullpost">Dengan hati berdebar-debar, saya lalu mencoba menyimak bagian lain “ramalan” gempa dalam manuskrip tersebut, seraya menghubungkannya dengan gempa 7.1 SR pada Rabu, 16 Safar antara waktu Isya dan Subuh lalu di Nanggroe Aceh Darussalam.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><span class="fullpost">Saya agak gemetaran karena takwil gempa pada bagian itu berbunyi: “<em>…dan bergerak gempa pada bulan Safar…jika pada waktu Isya alamatnya bala [musibah] akan datang ke negeri itu…</em>”! Apakah itu artinya akan ada bala baru di Aceh dan sekitarnya? Semoga tidak! Peringatan dini datangnya tsunami pun sudah dicabut dua jam setelah gempa.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><span class="fullpost">Sekali lagi, semua yang tertulis dalam kertas Eropa berusia ratusan tahun tersebut memang bukan sebuah ramalan ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Saya sendiri ingin melihat takwil itu sebagai sebuah kearifan lokal (<em>local wisdom</em>) leluhur kita saja, yang ingin mengingatkan anak cucunya agar hidup lebih baik, bukan sebagai sesuatu yang niscaya terjadi.</span></p>
<p>Akan tetapi, kawan saya, Jajang Jahroni, mengingatkan bahwa tidak sepatutnya kita selalu menghadapkan secara dikotomis antara kearifan lokal tradisional dengan pengetahuan ilmiah modern (<em>science</em>) yang menurutnya terkadang juga mengandung <em>pseudo-science</em>. Ibarat <em>cireng</em> (Sunda: aci digoreng) yang sekarang ini bisa saja berdampingan dengan <em>sphageti</em> di Supermarket….!</p>
<p><strong>Takwil Gempa dan Pemilukada Aceh</strong><br />
Masalahnya, terlepas dari adanya gempa atau tidak, situasi mutakhir menjelang Pemilukada di Aceh pun membuat kita was-was, apa yang akan terjadi jika penembakan misterius terus terjadi dan situasi politik terus memanas?</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><span class="fullpost">Mata saya pun terus bergerak mengamati transkripsi teks <em>Takwil Gempa</em> yang dibuat oleh Yusri Akhimudin, Dosen STAIN Batusangkar yang sedang studi lanjut di konsentrasi Filologi di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, untuk mencari tahu kearifan lokal apa yang mungkin “dititipkan” oleh nenek moyang kita agar terhindar dari bala yang “diramalkan” itu.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><span class="fullpost">Sang pengarang ternyata menulis demikian: “<em>…maka haruslah kita memakai pakaian yang suci-suci dan memakai bau-bauan yang harum-harum supaya dijauhkan Allah ta’ala akan bala daripada tubuh kita…</em>”.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><span class="fullpost">Kita bisa menafsirkan sendiri, apa yang tersirat dari “kesucian pakaian dan kebersihan badan” yang dipersyaratkan oleh leluhur kita agar terhindar dari bala yang mungkin terjadi tersebut. Mungkin mereka juga menginginkan agar pakaian dan tubuh kita tidak dikotori oleh pertengkaran, perebutan kekuasaan, korupsi, dan nafsu duniawi belaka. <em>Wallahu a’lam</em>.</span></p>
<p><a href="window.print()">Print This Page</a></p>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<div class="blogger-post-footer">next<img alt="" width="1" height="1" /></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/naskahkuno.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/naskahkuno.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/naskahkuno.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/naskahkuno.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/naskahkuno.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/naskahkuno.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/naskahkuno.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/naskahkuno.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/naskahkuno.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/naskahkuno.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/naskahkuno.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/naskahkuno.wordpress.com/838/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/naskahkuno.wordpress.com/838/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/naskahkuno.wordpress.com/838/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=838&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naskahkuno.wordpress.com/2012/01/16/gempa-manuskrip-dan-pemilukada-di-aceh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0a7d71ad6a4f120432d25009e38a307?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Oman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2012/01/gempa.jpg?w=215" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts</title>
		<link>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/11/18/thesaurus-of-indonesian-islamic-manuscripts/</link>
		<comments>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/11/18/thesaurus-of-indonesian-islamic-manuscripts/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 01:38:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oman Fathurahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Current Research]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naskahkuno.wordpress.com/2011/11/18/thesaurus-of-indonesian-islamic-manuscripts</guid>
		<description><![CDATA[PPIM UIN Jakarta, on behalf of Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang dan Diklat, Ministry of Religious Affairs proudly presents the &#8216;trial version&#8217; of the Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts (TIIM). The full version will be officially launched by the Ministry soon. The TIIM is an online database designed by the Islamic Manuscript Unit (ILMU), Center for [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=829&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tiim.ppim.or.id/"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-PQxbBIdaL3Q/TsW4CIUJb-I/AAAAAAAAS5c/W7l-NrNzaJo/s200/Screenshot.png" alt="" border="0" /></a>PPIM UIN Jakarta, on behalf of Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang dan Diklat, Ministry of Religious Affairs proudly presents the &#8216;trial version&#8217; of the Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts (TIIM). The full version will be officially launched by the Ministry soon.</p>
<p>The TIIM is an online database designed by the Islamic Manuscript Unit (ILMU),<br />
Center for the Study of Islam and Society (PPIM), Syarif Hidayatullah State<br />
Islamic University (UIN) under supervision of Dr. Oman Fathurahman, and fully<br />
supported by the Center for Research and Development of Religious Literatures<br />
(Puslitbang Lektur Keagamaan), Indonesian Ministry of Religious Affairs (MORA).<br />
<span id="more-829"></span><br />
The TIIM gets supports from experts and researchers specializing in Indonesian<br />
manuscripts officially affiliated with the Indonesian Association for Nusantara<br />
Manuscripts or Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA).</span></p>
<p>The TIIM is mainly intended to provide information for both public and academic<br />
community on Indonesian Islamic manuscripts as complete as possible, written<br />
both in Arabic and local languages like Acehnese, Buginese, Javanase, Madurese,<br />
Malay, Minangkabau, Sasak, Sundanese, Wolio and others used in a written<br />
literary tradition in Indonesia.</p>
<p>The TIIM also provides some other useful information like the author names with<br />
their biographical accounts, number of copies kept in all libraries around the<br />
world, catalogues that list the related manuscripts including their pages and<br />
summaries, and all the articles and books about them.</p>
<p>The TIIM shows an even greater importance with the availability of information<br />
about the conducted, as well as the ongoing, philological works. If possible,<br />
these works are digitally available and could be downloaded. It is hoped that<br />
not only can it avoid unnecessary repetition in studying these texts but also<br />
fill the gaps found in the previous studies.</p>
<p>Considering a huge number of Indonesian Islamic manuscripts kept around the<br />
world, mounting to hundred thousand manuscripts or even more, as it is thought,<br />
the TIIM is definitely a lifetime project in which all data will be continuously<br />
revised and completed in accordance with the research findings in the future.</p>
<p>If you have any research data and information should be included in the<br />
database, please contact Dr. Oman Fathurahman (omanwae@gmail.com). Any comments and advices are welcome.</p>
<p>Here is the link:</p>
<p>http://tiim.ppim.or.id/</p>
<p><a href="window.print()">Print This Page</a></p>
<div class="blogger-post-footer">next<img alt="" width="1" height="1" /></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/naskahkuno.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/naskahkuno.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/naskahkuno.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/naskahkuno.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/naskahkuno.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/naskahkuno.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/naskahkuno.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/naskahkuno.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/naskahkuno.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/naskahkuno.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/naskahkuno.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/naskahkuno.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/naskahkuno.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/naskahkuno.wordpress.com/829/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=829&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/11/18/thesaurus-of-indonesian-islamic-manuscripts/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0a7d71ad6a4f120432d25009e38a307?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Oman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/-PQxbBIdaL3Q/TsW4CIUJb-I/AAAAAAAAS5c/W7l-NrNzaJo/s200/Screenshot.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Manuskrip dan Penguatan Kajian Islam Asia Tenggara</title>
		<link>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/10/21/manuskrip-dan-penguatan-kajian-islam-asia-tenggara/</link>
		<comments>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/10/21/manuskrip-dan-penguatan-kajian-islam-asia-tenggara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 12:36:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oman Fathurahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Activities]]></category>
		<category><![CDATA[Current Research]]></category>
		<category><![CDATA[Manassa]]></category>
		<category><![CDATA[Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Posting in Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naskahkuno.wordpress.com/2011/10/21/manuskrip-dan-penguatan-kajian-islam-asia-tenggara</guid>
		<description><![CDATA[Manuskrip: Mozaik Islam Lokal Nusantara yang Terserak dan Terlupakan Pada tanggal 13 hingga 17 September 2011 lalu, saya bersama sejumlah anggota tim peneliti gabungan dari Kajian Poetika Fakultas Sastra Universitas Andalas, Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) Jepang, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), dan didampingi Tuanku Umar sebagai Buya tarekat Syattariyah Surau setempat, melakukan penelitian manuskrip [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=828&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/10/img_2061.jpg"><img src="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/10/img_2061.jpg?w=300" alt="" border="0" /></a><strong>Manuskrip: Mozaik Islam Lokal Nusantara yang Terserak dan Terlupakan</strong><br />
Pada tanggal 13 hingga 17 September 2011 lalu, saya bersama sejumlah anggota tim peneliti gabungan dari Kajian Poetika Fakultas Sastra Universitas Andalas, Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) Jepang, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), dan didampingi Tuanku Umar sebagai Buya tarekat Syattariyah Surau setempat, melakukan penelitian manuskrip Islam di Surau Calau, Sijunjung, Sumatra Barat.</p>
<div></div>
<div>Sehari sebelumnya, penelitian yang sama juga dilakukan di keluarga ahli waris Surau Tanjung Ampalu yang dengan sangat hangat menyambut kami. Seperti diketahui, Minangkabau dikenal sebagai salah satu wilayah di Nusantara yang menjadi ‘lumbung’ emas kekayaan manuskrip Islam Melayu Nusantara, berkat tradisi intelektual Islam masa lalu yang pernah mengalami masa keemasannya.</p>
<div>Mulai pagi hingga larut malam, satu persatu manuskrip Surau Calau yang tersimpan di sebuah bilik ‘rahasia’ pun dikeluarkan oleh Buya, untuk kemudian kami identifikasi judul-judul dan pengarangnya, lalu kami bersihkan, kami preservasi melalui digitalisasi, dan akhirnya kami rapihkan kembali ke tempat semula, dengan penataan yang lebih baik. Begitupun sekarung (benar-benar tersimpan dalam sebuah karung) manuskrip Islam lainnya yang semula teronggok di atap Surau, atas izin Tetua Surau diturunkan dan diidentifikasi.</div>
<div>
<span id="more-828"></span><br />
Seperti pernah kami lakukan dalam Koleksi manuskrip Islam di Yayasan Ali Hasjmy dan Zawiyah Tanoh Abee Aceh beberapa tahun lalu, dalam lembar demi lembar setiap manuskrip itu, saya memperhatikan teks-teks yang berbahasa lokal khususnya, untuk mengetahui dan menyelami pengetahuan serta kearifan lokal Islam apa yang terkandung dalam manuskrip-manuskrip Surau Calau tersebut.</span></p>
<p>Saya meyakini sepenuh hati bahwa manuskrip Islam adalah salah satu mozaik Islam Nusantara yang banyak tercecer di lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional semacam surau di Minangkabau, zawiyah/dayah di Aceh, atau pesantren di Jawa. Bahkan dalam teks-teks berbahasa Arab, yang menggambarkan terbentuknya jaringan keilmuan dengan dunia Islam secara keseluruhan, pun seringkali terselip interpretasi (tafsiran) maupun pun interpolasi (sisipan) dari Muslim setempat sebagai bukti adanya resepsi budaya lokal terhadap unsur-unsur luar, yang pada gilirannya terbentuk sebagai bagian dari mozaik Islam Nusantara.</p>
<p>Terbukti bahwa dari 99 bundel manuskrip Islam di Surau Calau, Sijunjung Sumatra Barat, sejumlah teks penting berbahasa Melayu Minang, yang beberapa di antaranya sangat lokal dan sulit dijumpai di wilayah lain yang berbeda konteksnya, berhasil kami identifikasi, seperti <em>Nazam Ulakan</em>, <em>Silsilah Syattariyah Surau Tinggi di Calau</em>, <em>Ajaran Tuanku Abdurrahman al-Syattari</em>, <em>Hikayat Sijunjung</em>, <em>Kaji Tubuh</em>, <em>Syair Johan Perkasa Syah Alam dari Paninjauan</em>, <em>Surat Tuanku Pamansiangan</em>, dan beberapa lainnya, di samping tentu saja teks-teks Melayu asal wilayah lain, terutama Aceh, yang menggambarkan kuatnya jaringan keilmuan Minangkabau dengan para ulama Aceh abad sebelumnya.</p>
</div>
<div><span class="fullpost"><br />
</span></div>
<div>
<p><span class="fullpost">Beberapa teks yang dijumpai dalam kategori ini antara lain <em>Syair Dagang</em> karya Hamzah Fansuri, <em>Jawhar al-Haqa’iq</em> karya Syamsuddin al-Sumatra’i, <em>Tanbih al-Masyi al-Mansub ila Tariq al-Qusyasyi</em> karya Abdurrauf ibn ‘Ali al-Jawi al-Fansuri, dan beberapa lainnya.</span></p>
<p>Bahkan, lebih dari itu, teks-teks dari Surau warisan Syaikh Abdul Wahab Calau, yang sesungguhnya terletak jauh di pelosok Minangkabau dan terletak di perbatasan Jambi, ini membuktikan ketidakterasingannya dari tradisi intelektual di dunia Islam secara keseluruhan. Sebut saja teks <em>al-Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi</em> karya ulama India Fadlullah al-Burhanpuri dan komentarnya, <em>al-Haqiqah al-Muwafiqah li al-Shari’ah</em> oleh pengarang yang sama. Ajaran martabat tujuh dan wahdat al-wujud dalam teks ini ini pernah menyulut kontroversi tak berkesudahan sejak abad ke-17, mulai dari Aceh zaman al-Raniri, hingga ke Jawa pada masa kemudian seperti tergambar dalam perdebatan antara Syaikh Mutamakkin dan Ketib Anom Kudus dalam <em>Serat Cebolek</em> karangan Yasadipura I.</p>
<p>Tersingkapnya ‘harta karun’ berupa manuskrip kuno warisan peradaban Islam Nusantara masa lalu di Surau Calau Minangkabau sesungguhnya merupakan salah satu saja dari sejumlah bukti peradaban Islam Nusantara berupa manuskrip tulisan tangan yang masih dapat ditemukan terserak di lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional, ataupun di tangan-tangan masyarakat sebagai properti pribadi, karena selain Minangkabau, kita juga dapat menemukan mozaik Islam Nusantara berupa manuskrip tersebut di berbagai wilayah lain di Sumatra, Sulawesi, Jawa, Kalimantan, maupun wilayah lainnya.</p>
<p>Beberapa waktu sebelumnya, saya bersama tim Masyarakat Pernaskahan Nusantara dan Dosen Fakultas Adab Sunan Ampel Surabaya, juga melakukan penelusuran manuskrip Islam di Kampus Pesantren Sabilil Muttaqien, Takeran Magetan, Jawa Timur. Meski Pesantren ini tergolong cukup muda, yakni didirikan pada paruh pertama abad ke-20, tapi PSM Takeran ternyata juga menyimpan sekitar 60 manuskrip Islam, yang kebanyakan berbahasa Arab dan diberikan terjemah gantung dalam bahasa Jawa setempat.</p>
<p>Jejak-jejak sejarah intelektual Islam PSM Takeran juga dapat ditemukan dalam sejumlah manuskrip koleksinya, yang semula teronggok begitu saja bersama buku-buku lain di sudut Perpustakaan. Salah satu manuskrip dari Kertas Dluwang yang sudah sangat rapuh misalnya, berjudul <em>Tafsir al-Jalalayn</em>, mengandung sebuah catatan dalam aksara Latin berbunyi: “<em>Tulisan Kj. Imam Murshid Pendiri “P.S.M.” Diwaktu mereorganiseer Pesantren Takeran. Sajang beliau meninggalkan Pesantren Sedjak Tgl. 19 Sept. 1948</em>.”</p>
<p>Selain itu, sebuah hasil fotokopi manuskrip berbahasa Jawa tentang silsilah guru-murid Tarekat Syattariyah membuktikan adanya jaringan guru-murid pendiri PSM Takeran dengan Syaikh Abdul Muhyi di Pamijahan, yang kemudian terhubungkan ke Syaikh Abdurrauf ibn Ali al-Jawi di Aceh, dan Syaikh Ahmad al-Qusyasyi di Madinah. Meski sekarang ini orientasi PSM Takeran tidak lagi mengembangkan tradisi Tarekat, akan tetapi saksi sejarah berupa manuskrip, yang kini sudah tersimpan rapi dalam rak kaca, jelas menjadi petunjuk sejarah afiliasi dan kecenderungan tokoh-tokoh lembaga pendidikan ini di era sebelumnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><span class="fullpost">Khazanah manuskrip Islam pesantren lain yang belum terjamah juga terdapat di wilayah Cirebon. Dalam sebuah workshop “Revitalisasi Tradisi Tahqiq di Pesantren” yang diselenggarakan oleh santri-santri Kampus al-Biruni Pesantren Ciwaringin dan sekitarnya di Cirebon, terungkap adanya puluhan manuskrip di Pesantren Ciwaringin dan Pesantren Buntet yang masih teronggok sebagai pusaka kuno belaka. Identifikasi ‘dadakan’ atas sebuah manuskrip, yang ternyata berjudul <em>Sabil al-muhtadin</em> karya Syaikh Arsyad al-Banjari, telah memberikan stimulus kepada sejumlah santri untuk segera melakukan preservasi dan sekaligus pengkajian secara sistematis terhadap manuskrip-manuskrip lainnya yang tersimpan.</span></p>
<p>Penelusuran manuskrip Islam Nusantara yang paling mutakhir, saya lakukan di wilayah Pontianak, Kalimantan Barat. Berdasarkan informasi awal yang telah dihimpun oleh sejumlah dosen dan peneliti muda yang tergabung dalam “Malay Corner” di STAIN Pontianak, wilayah ini ternyata juga menyimpan khazanah mozaik Islam dalam bentuk manuskrip tulisan tangan.</p>
<p>Sebuah manuskrip berbahan kertas Dluwang yang tersimpan, dan awalnya bercampur dengan kitab cetak litograf, di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) misalnya, mengandung teks-teks Islam berbahasa Arab yang kemudian diberikan terjemah antarbaris menggunakan aksara Pegon berbahasa Jawa. Digunakannya kertas Dluwang asal Jawa, berikut terjemah Pegon bersama aneka catatan Pegon lain yang “mengotori” manuskrip ini menggiring saya kepada sebuah pertanyaan: “Sejauhmana Jawa berpengaruh dalam tradisi intelektual Islam di Kalimantan Barat?”</p>
<p>Memang, manuskrip ‘Jawa’ di Pontianak itu bisa saja tidak ada kaitan apa-apa dengan tradisi intelektual Islam, hanya kajian lebih mendalam yang dapat secara pasti menjawabnya. Tentu ini menjadi sebuah pekerjaan rumah tersendiri, apalagi dalam hal pemetaan serta kajian manuskrip Islam Nusantara, Pontianak dapat dianggap masih relatif tertinggal, terutama dibanding wilayah lain seperti Aceh, Minangkabau, Riau, Palembang, Bima, Surakarta, Jogjakarta, Bandung, serta beberapa wilayah di Jawa lainnya.</p>
<p><strong>Manuskrip dan Jaringan ‘Ingatan Kolektif’ Muslim Nusantara</strong><br />
Demikianlah, jika di antara kita ada yang mencurahkan dedikasinya untuk terus-menerus melakukan penelusuran dan pengkajian terhadap manuskrip Islam Nusantara yang masih tercecer di tangan-tangan masyarakat, niscaya hal itu dapat memberikan kontribusi terhadap upaya rekonstruksi sejarah sosial intelektual Islam yang pernah berkembang pada masa lalu, yang kemudian diharapkan pula dapat mengetahui karakter asal Muslim di wilayah ini, sebagai cermin untuk membangun peradaban Islam Indonesia dan Asia Tenggara di masa depan.</p>
<p>Saya sangat yakin, mozaik Islam Nusantara yang berupa manuskrip ini dapat dijumpai secara merata sebagai identitas kultural berbagai kelompok masyarakat etnik besar Nusantara. Dan, jika dirangkai satu persatu melalui sebuah aktifitas riset akademis yang sistematis dan terukur, niscaya mozaik manuskrip tersebut dapat membentuk sebuah jaringan ‘ingatan kolektif’ yang menghubungkan satu dengan yang lain.</p>
<p>Manuskrip <em>Sabil al-muhtadin</em> karya Arsyad al-Banjari dari etnis Banjar, misalnya, ditulis atas ‘inspirasi’ dari <em>Sirat al-mustaqim</em>nya Nuruddin al-Raniri dari etnis Aceh, pun sebuah manuskrip berbahasa Maranao di Filipina menyebut ‘berhutang budi’ pada <em>Mir’at al-tullab</em> karangan Abdurrauf al-Fansuri di Aceh, <em>Serat Menak</em> dari etnis Jawa lahir sebagai resepsi atas <em>Hikayat Amir Hamzah</em> dari etnis Melayu, <em>Serat Tasawuf</em> di Sunda juga mencantumkan <em>Siyar al-salikin</em> karya al-Palimbani sebagai rujukannya, manuskrip dalam tradisi Bugis-Makassar pun sering ‘mengingat’ peranan tiga ulama Minangkabau, Minangkabau ingat pada Aceh, Ternate ingat pada Makassar dan Gresik, Patani ingat pada Banjarmasin dan Palembang, Palembang ingat pada Demak, dan demikian seterusnya pola kemunculan manuskrip Nusantara ini terbentuk, transetnis dan transdaerah, sehingga khazanah manuskrip Nusantara layak dilihat sebagai cermin kesatuan dalam keragaman (<em>unity in diversity</em>) etnis masyarakat yang sebagian besar wilayahnya kini bernama Indonesia!</p>
<p>Apalagi jika pengamatan tersebut kita tujukan pada manuskrip-manuskrip silsilah guru-murid dalam sebuah tarekat, seperti yang dijumpai di Surau Calau dan Tanjung Ampalu Minangkabau, di PSM Takeran Magetan, di Zawiyah Tanoh Abee Aceh, di Pamijahan, di Cirebon, dan di tempat-tempat lainnya, niscaya proses merangkai mozaik-mozaik Islam Nusantara tersebut akan lebih mudah dilakukan, karena sebagai sebuah organisasi dalam tasawuf, tarekat menyediakan informasi yang terpercaya sejauh menyangkut hubungan seorang guru dan murid-muridnya, meski terkadang masing-masing antarmereka saling berjauhan, baik dari segi jarak maupun rentang hidupnya.</p>
<p><strong>Manuskrip Islam Nusantara: Kesinambungan dan Pribumisasi Ajaran Islam</strong><br />
Secara umum, manuskrip Nusantara, yang ditulis dalam puluhan bahasa lokal, mengandung kekayaan informasi yang berlimpah. Isi manuskrip itu tidak terbatas pada kesusastraan tetapi mencakup berbagai bidang lain seperti agama, sejarah, hukum, adat, obat-obatan, azimat, astronomi, kedokteran, dan lain-lain.</p>
<p>Dalam hal manuskrip Islam Nusantara, tema-tema yang terkandung pun banyak didominasi oleh teks-teks yang sangat menggambarkan adanya pertemuan serta pribumisasi Islam dengan budaya-budaya lokal, di samping mencakup hampir semua bidang keilmuan yang pernah berkembang di dunia Islam.</p>
<p>Berdasarkan infomasi dalam Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts yang sedang dikembangkan oleh Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang dan Diklat, Kementerian Agama, bekerja sama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dari 2.088 teks yang sudah berhasil dientri, tema hagiografi tradisional menempati urutan teratas sebanyak 442 teks (21%), disusul kemudian lima tema terbanyak berikutnya berturut-turut adalah tasawuf sebanyak 322 teks (15%), tale and folklor sebanyak 266 teks (13%), hadis Nabi sebanyak 206 teks (10%), teologi sebanyak 146 teks (7%), dan tema ethics atau akhlak sebanyak 128 teks (6%).</p>
<p><strong>Manuskrip dan Penguatan Tradisi Riset Islam Indonesia: Peluang dan Tantangan</strong><br />
Dengan memperhatikan peta di atas, manuskrip Islam Nusantara, melalui Filologi sebagai perangkat keilmuan utama untuk mengkajinya, sangat potensial untuk dijadikan sebagai salah satu entri point pengembangan dan penguatan tradisi riset tentang Islam Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya, baik secara perorangan oleh dosen dan peneliti, maupun secara kelembagaan oleh perguruan tinggi agama Islam, seperti UIN, IAIN, STAIN, dan perguruan tinggi agama Islam lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><span class="fullpost">Bahkan, mengingat potensinya yang cukup signifikan, manuskrip Islam Nusantara juga dapat menjadi pintu masuk untuk menghidupkan kembali tradisi dan aktifitas keilmuan di lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional, semacam pesantren, yang pada masa lalu memang pernah menjadi center of excellence keilmuan Islam Nusantara.</span></p>
<p>Jika dirumuskan dan diorganisasi secara lebih sistematis, kajian terhadap manuskrip Islam Nusantara ini memiliki beberapa keuntungan strategis sekaligus:</p>
<p>Pertama, dapat menggali kekhasan serta dinamika Islam dan masyarakat Muslim Indonesia dan Asia Tenggara, karena manuskrip Islam Nusantara, selain menggunakan bahasa Arab, ditulis dalam berbagai bahasa lokal seperti Aceh, Bali, Batak, Belanda, Bugis-Makasar-Mandar, Jawa &amp; Jawa Kuna, Madura, Melayu, Minangkabau, Sanskerta, Sasak, Sunda dan Sunda Kuna, Ternate, dan Wolio, sehingga mengkajinya berarti akan menjadi semacam ‘jalan pintas’ untuk mengetahui pola-pola hasil interaksi dan pertemuan Islam dengan budaya-budaya lokal di Asia Tenggara, yang tentunya menjadi kekayaan intelektual tersendiri.</p>
<p>Kedua, kajian atas manuskrip-manuskrip Islam Nusantara dengan sendirinya akan menjadi bagian dari upaya pelestarian benda cagar budaya Indonesia demi menjaga identitas kemajemukan, kebangsaan, dan menjamin keberlangsungan transmisi pengetahuan yang telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu.</p>
<p>Ketiga, keberhasilan memetakan kejayaan tradisi intelektual Islam Nusantara pada gilirannya dapat menunjukkan kepada dunia internasional bahwa wilayah ini tidak dapat dianggap sebagai Islam pinggiran (<em>peripheral</em>), melainkan bagian tak terpisahkan (<em>integral</em>), dari dunia Islam secara keseluruhan.</p>
<p>Dalam konteks masyarakat akademik internasional, manuskrip Islam telah mendapatkan perhatian besar, baik untuk bidang pelestariannya sebagai benda cagar budaya, maupun sebagai sumber primer penelitian dan kajian. The Islamic Manuscript Association (TIMA) yang bermarkas di Cambridge University, UK, misalnya, merupakan salah satu asosiasi akademik terkemuka yang menyelenggarakan berbagai aktifitas akademik, seperti konferensi internasional, scholarship, grant, penelitian, penerbitan, dan berbagai aktifitas lainnya.</p>
<p>Sayangnya, manuskrip Islam Nusantara masih sedikit dikenal karakteristik dan kandungan isinya oleh kalangan masyarakat akademik internasional tersebut karena kurangnya informasi dan publikasi internasional berkaitan dengan kekayaan warisan peradaban Islam Nusantara kita. Ada beberapa kemungkinan mengapa hal itu terjadi:</p>
<p>Pertama, kurangnya penelitian-penelitian yang mendalam tentang kekayaan khasanah manuskrip Islam Nusantara oleh sarjana-sarjana Indonesia sendiri yang sesungguhnya memiliki pengetahuan memadai, baik berkaitan dengan bahasa lokal yang digunakan maupun substansi keilmuan di dalamnya;</p>
<p>Kedua, mungkin saja sudah ada sejumlah kajian yang telah dilakukan, namun hasil kajian tersebut tidak dipublikasikan dan kemudian dikomunikaiskan dengan dunia akademik internasional;</p>
<p>Ketiga, belum adanya sebuah pusat kajian Islam khusus yang memberikan perhatian pada kajian manuskrip Islam Nusantara secara komprehensif, dikelola secara profesional, serta melakukan kajian terus menerus, dan akhirnya dapat dijadikan sebagai rujukan para sarjana dalam mengkaji manuskrip Islam Nusantara;</p>
<p>Keempat, masih minimnya dukungan finansial untuk upaya-upaya pengkajian dan sekaligus pelestarian khasanah manuskrip Islam Nusantara semacam ini, sehingga minat masyarakat akademik untuk menekuninya pun masih rendah dibanding bidang keilmuan lain.</p>
<p>Dalam hal ini, civitas akademika di perguruan tinggi Agama Islam (PTAI) di bawah naungan Kementerian Agama, sesungguhnya memiliki potensi untuk masuk dalam kajian Islam Nusantara yang berbasiskan pada manuskrip tersebut, setidaknya karena dua alasan:</p>
<p>Pertama, PTAI memiliki sumber daya manusia (<em>human resources</em>) yang memiliki potensi besar dalam memadukan kajian bidang-bidang keislaman dengan bidang umum termasuk Budaya dan Humaniora. Potensi tersebut ditunjang oleh kenyataan bahwa civitas akademika PTAI sebagian besar memiliki akar keilmuan Islam di pesantren-pesantren dan madrasah, sehingga sangat menguasai topik-topik yang dibahas dalam literatur Islam klasik, termasuk dalam manuskrip-manuskrip Islam Nusantara.</p>
<p>Kedua, PTAI memiliki SDM yang kuat dalam penguasaan bahasa yang banyak digunakan dalam manuskrip, yakni bahasa Arab. Apalagi berbagai manuskrip dalam bahasa daerah pun umumnya ditulis dengan aksara Arab (Jawi dan Pegon), sehingga penguasaan atas aksara dan bahasa tersebut menjadi sangat penting. Sejauh ini, minimnya penguasaan para filolog —yang umumnya berlatar belakang pendidikan umum— terhadap bahasa Arab seringkali menjadi faktor penghambat dilakukannya penelitian atas manuskrip-manuskrip Islam tersebut, sehingga tidak mengherankan jika ribuan manuskrip Nusantara berbahasa Arab lebih banyak “ditelantarkan”.</p>
<p><strong>Manuskrip dan Pengembangan Infrastruktur Tradisi Riset Islam Indonesia</strong><br />
Jika boleh dibandingkan dengan kajian Islam Timur Tengah, para peneliti dalam kajian Islam Asia Tenggara, khususnya dalam konteks ini kajian manuskrip Islam, ibarat masuk ke dalam sebuah hutan belantara yang masih perawan, kaya dengan sumber daya, tetapi kondisinya belum tertata dengan baik.</p>
<p>Jika dalam konteks tradisi dan kajian Islam Timur Tengah misalnya, yang memang telah berusia jauh lebih tua, seorang peneliti akan dengan mudah bisa mencari dan mengetahui judul sebuah kitab berikut biografi pengarangnya melalui aneka tabaqat, faharis, atau ma’ajim yang telah disusun, maka tidak demikian halnya dengan kajian manuskrip Islam Nusantara. Meski sejumlah katalog (<em>faharis</em>) telah diterbitkan, akan tetapi kebutuhan terhadap perangkat penelitian semacam tabaqat, faharis, atau ma’ajim, yang menyediakan data-data lengkap dan komprehensif, tentang manuskrip Islam Nusantara, berikut biografi masing-masing pengarangnya, masih belum terpenuhi, sehingga seringkali menyulitkan para peneliti untuk melakukan kajian atasnya.</p>
<p>Masalah lain adalah bahwa hingga saat ini belum ada satu pun referensi komprehensif yang dapat menjadi rujukan tentang manuskrip Islam Nusantara apa saja yang pernah diteliti, baik dalam bentuk skripsi, tesis, disertasi, maupun laporan penelitian biasa. Akibatnya, tidak jarang sebuah penelitian saling tumpang tindih satu dengan yang lain, dan sering terjadi bahwa satu judul teks yang sama dalam naskah Nusantara dikaji oleh dua atau lebih peneliti, tanpa saling merujuk satu dengan yang lain.</p>
<p>Nah, jika mimpi-mimpi untuk mengembangkan tradisi riset Islam Indonesia ingin kita wujudkan, dan jika perguruan-perguruan tinggi agama Islam berminat memperkuat tradisi riset dan akademik di kampusnya, maka infrastruktur yang dibutuhkan tersebut sudah seyogyanya dibangun terlebih dahulu. Dalam hal ini, manuskrip sebagai salah satu mozaik Islam Nusantara, merupakan salah satu aset yang sangat potensial dan patut dipertimbangkan untuk dijadikan sebagai pintu masuk penguatan tradisi riset Islam Indonesia dan Asia Tenggara.</p>
<p><span class="fullpost">Seperti pernyataan Anthony Johns yang sering saya kutip, manuskrip Islam, yang ditulis oleh elit Muslim Nusantara sendiri, dan untuk dikonsumsi oleh komunitas lokal setempat, dapat menjadi sumber kajian otentik untuk memahami karakter yang sesungguhnya dari Islam dan Muslim di wilayah ini. Semoga.</span></p>
<p><span class="fullpost">&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
<span class="Apple-style-span" style="font-family:'times new roman';font-size:100%;">Tulisan ini pernah dipresentasikan dalam “The 11<sup>th</sup></span></span><span class="fullpost"><span class="Apple-style-span" style="font-size:100%;"><span class="Apple-style-span" style="font-family:'times new roman';"> Annual Conference on Islamic Studies (ACIS)”, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, bekerja sama dengan STAIN Syaikh Abdurahman Siddiq Bangka Belitung di Bangka Belitung, 10-13 Oktober 2011.</span><br />
</span><br />
</span></p>
</div>
<div><span class="fullpost"><a href="window.print()">Print This Page</a></span></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
</div>
<div class="blogger-post-footer">next<img alt="" width="1" height="1" /></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/naskahkuno.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/naskahkuno.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/naskahkuno.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/naskahkuno.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/naskahkuno.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/naskahkuno.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/naskahkuno.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/naskahkuno.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/naskahkuno.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/naskahkuno.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/naskahkuno.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/naskahkuno.wordpress.com/828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/naskahkuno.wordpress.com/828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/naskahkuno.wordpress.com/828/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=828&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/10/21/manuskrip-dan-penguatan-kajian-islam-asia-tenggara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0a7d71ad6a4f120432d25009e38a307?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Oman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/10/img_2061.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Memahami Islam Nusantara Melalui Manuskrip dan Kitab: Sebuah Refleksi</title>
		<link>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/08/05/memahami-islam-nusantara-melalui-manuskrip-dan-kitab-sebuah-refleksi/</link>
		<comments>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/08/05/memahami-islam-nusantara-melalui-manuskrip-dan-kitab-sebuah-refleksi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 03:07:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oman Fathurahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Malay Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Posting in Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naskahkuno.wordpress.com/2011/08/05/memahami-islam-nusantara-melalui-manuskrip-dan-kitab-sebuah-refleksi</guid>
		<description><![CDATA[&#8212;&#8212;- Disampaikan dalam saresehan “Penguatan Kajian Islam Nusantara” di Lakpesdam PCINU, Kairo, Mesir, Kamis 21 Juli 2011 &#8212;&#8212; “…It is works such as these that the Muslim elite wrote for themselves and each other. It is from a study of such works in their regional settings that a clearer and perhaps more worthy understanding of [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=816&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/08/naskah-kitab.jpg"><img src="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/08/naskah-kitab.jpg?w=300" alt="" border="0" /></a><span class="Apple-style-span" style="font-size:small;">&#8212;&#8212;-<br />
Disampaikan dalam saresehan “Penguatan Kajian Islam Nusantara” di Lakpesdam PCINU, Kairo, Mesir, Kamis 21 Juli 2011<br />
&#8212;&#8212;<br />
</span><br />
“…It is works such as these that the Muslim elite wrote for themselves and each other. It is from a study of such works in their regional settings that a clearer and perhaps more worthy understanding of Islam in Southeast Asia may be won…” (Johns 1976: 55).</p>
<p>Mempertimbangkan perkembangan kajian-kajian Islam Nusantara, hingga kini ada bidang kajian yang sesungguhnya potensial dan menarik tetapi belum mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi kajian Islam (Islamic studies). Bidang tersebut adalah kajian Islam yang berbasiskan pada manuskrip-manuskrip Islam Nusantara.</p>
<p>Yang dimaksud dengan manuskrip di sini adalah semua rekaman informasi yang ditulis tangan oleh seseorang tiga sampai empat ratus tahun yang lalu. Pengertian ‘manuskrip’ dalam konteks ini merupakan lawan kata dokumen yang diproduksi melalui mesin cetak atau alat sejenis.</p>
<p>Berdasarkan penelitian awal atas sejumlah koleksi, manuskrip Islam Nusantara memang dijumpai dalam jumlah besar, dan ditulis dalam berbagai bahasa lokal seperti Melayu, Jawa, Sunda, Wolio, dan lainnya, selain tentu saja manuskrip berbahasa Arab. Umumnya, secara fisik manuskrip-manuskrip tersebut kini dalam kondisi memprihatinkan dan sangat rentan mengalami kemusnahan, baik karena faktor alam maupun akibat kecerobohan manusia.<br />
<span id="more-816"></span><br />
Kajian terhadap manuskrip-manuskrip Islam Nusantara mempunyai beberapa keuntungan strategis sekaligus:<br />
<!--more--><br />
Pertama, dapat menggali kekhasan serta dinamika Islam dan masyarakat Muslim lokal, karena manuskrip Islam Nusantara, selain menggunakan bahasa Arab, ditulis dalam berbagai bahasa lokal seperti Aceh, Bali, Batak, Belanda, Bugis-Makasar-Mandar, Jawa &amp; Jawa Kuna, Madura, Melayu, Minangkabau, Sanskerta, Sasak, Sunda dan Sunda Kuna, Ternate, Wolio, Bahasa-bahasa Indonesia Timur, Bahasa-bahasa Kalimantan, dan Bahasa-bahasa Sumatra Selatan, sehingga mengkajinya berarti akan menjadi semacam ‘jalan pintas’ untuk mengetahui pola-pola hasil interaksi dan pertemuan Islam dengan budaya-budaya lokal di Nusantara, yang tentunya menjadi kekayaan intelektual tersendiri.</span></p>
<p>Kedua, kajian atas manuskrip-manuskrip Islam Nusantara dengan sendirinya akan menjadi bagian dari upaya pelestarian (preservation) benda cagar budaya Indonesia demi menjaga identitas kemajemukan, kebangsaan, dan menjamin keberlangsungan transmisi pengetahuan yang telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu.</p>
<p>Ketiga, keberhasilan memetakan kejayaan tradisi intelektual Islam Nusantara pada gilirannya dapat menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Nusantara bukanlah wilayah pinggiran (peripheral part), melainkan bagian tak terpisahkan (integral part), dari dunia Islam secara keseluruhan.</p>
<p>Sejarah Kebudayaan Indonesia selama berabad-abad telah mewariskan khazanah tertulis berupa manuskrip-manuskrip Nusantara yang jumlahnya sangat berlimpah. Merujuk pada Undang-undang Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010, sebuah manuskrip tulisan tangan dapat dikategorikan sebagai benda cagar budaya bila telah berusia minimal 50 (lima puluh) tahun, serta memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan.</p>
<p>Kandungan isi manuskrip Nusantara sendiri memang sangat luas dan tidak terbatas pada kesusastraan saja, tetapi mencakup berbagai bidang lain seperti agama, sejarah, hukum, politik kesultanan, resolusi konflik, adat istiadat, obat-obatan, teknik, dan lain-lain, sehingga akan sangat relevan sebagai bahan pengetahuan umum dalam dunia pendidikan di Indonesia.</p>
<p>Sejumlah upaya inventarisasi dan katalogisasi berkaitan dengan dunia pernaskahan Nusantara yang dilakukan belakangan ini menunjukkan bahwa kategori manuskrip keagamaan Islam (Islamic manusripts) terdapat dalam jumlah besar, dan dijumpai dalam berbagai bidang keilmuan Islam, seperti tafsir, hadis, tauhid, fikih, tasawuf, kalam, dan lain-lain.</p>
<p>Terbukti pula bahwa jaringan lembaga pendidikan Islam tradisional, seperti surau di Minangkabau, dayah di Aceh, dan pesantren di Jawa, ternyata juga menyimpan khasanah manuskrip keagamaan Islam tersebut dalam berbagai bahasa, seperti Arab, Melayu, Jawa, Sunda, dan bahasa-bahasa lokal Indonesia lainnya.</p>
<p>Dalam konteks masyarakat akademik internasional, manuskrip Islam telah mendapatkan perhatian besar, baik untuk bidang pelestariannya sebagai benda cagar budaya, maupun sebagai sumber primer penelitian dan kajian. The Islamic Manuscript Association (TIMA) yang bermarkas di Cambridge University, UK, misalnya, merupakan salah satu asosiasi akademik terkemuka yang mendapatkan dukungan finansial penuh dari the Prince Alwaleed Bin Talal Centre of Islamic Studies untuk menyelenggarakan berbagai aktifitas akademik, seperti konferensi internasional, scholarship, grant, penelitian, penerbitan, dan berbagai aktifitas lainnya.</p>
<p>Sayangnya, cakupan aktifitas TIMA tampaknya belum menjangkau khazanah manuskrip Islam Nusantara, yang sesungguhnya diakibatkan oleh kurangnya informasi dan publikasi internasional berkaitan dengan kekayaan warisan peradaban Islam Nusantara tersebut. Ada beberapa kemungkinan mengapa informasi tentang kekayaan khasanah manuskrip Islam Nusantara ini belum banyak diketahui:</p>
<p>Pertama, kurangnya penelitian-penelitian yang mendalam tentang kekayaan khazanah manuskrip Islam Nusantara oleh sarjana-sarjana Indonesia sendiri yang sesungguhnya memiliki pengetahuan memadai, baik berkaitan dengan bahasa lokal yang digunakan maupun substansi keilmuan di dalamnya;</p>
<p>Kedua, mungkin saja sudah ada sejumlah kajian yang telah dilakukan, namun hasil kajian tersebut tidak dipublikasikan dan kemudian dikomunikasikan menggunakan bahasa dunia akademik internasional;</p>
<p>Ketiga, belum adanya sebuah pusat kajian Islam yang memberikan perhatian pada kajian manuskrip Islam Nusantara secara komprehensif, dikelola secara profesional, serta melakukan kajian terus menerus, dan akhirnya dapat dijadikan sebagai rujukan para sarjana dalam mengkaji manuskrip Islam Nusantara;</p>
<p>Keempat, masih minimnya dukungan finansial untuk upaya-upaya pelestarian khasanah manuskrip Islam Nusantara semacam ini, sehingga minat masyarakat akademik untuk menekuninya pun sangat rendah dan mengalami kendala.</p>
<p>Dalam hal ini, banyak sarjana Muslim Nusantara yang sesungguhnya memiliki potensi untuk masuk dalam kajian Islam Nusantara yang berbasiskan pada manuskrip tersebut, setidaknya karena dua alasan:</p>
<p>Pertama, para sarjana Muslim Nusantara merupakan sumber daya manusia (human resources) yang memiliki potensi besar dalam memadukan kajian bidang-bidang keislaman dengan bidang umum termasuk Budaya dan Humaniora. Potensi tersebut ditunjang oleh kenyataan bahwa sebagian mereka berasal dari sebuah komunitas yang memiliki akar keilmuan Islam di pesantren-pesantren dan madrasah, sehingga sangat menguasai topik-topik yang dibahas dalam literatur Islam klasik, termasuk dalam manuskrip-manuskrip Islam Nusantara.</p>
<p>Kedua, banyak sarjana Muslim Nusantara memiliki kemampuan bahasa yang banyak digunakan dalam manuskrip, yakni bahasa Arab. Apalagi berbagai manuskrip dalam bahasa daerah pun umumnya ditulis dengan aksara Arab (Jawi dan Pegon), sehingga penguasaan atas aksara dan bahasa tersebut menjadi sangat penting. Sejauh ini, minimnya penguasaan para filolog —yang umumnya berlatar belakang pendidikan umum— terhadap bahasa Arab seringkali menjadi faktor penghambat dilakukannya penelitian atas manuskrip-manuskrip Islam tersebut, sehingga tidak mengherankan jika puluhan ribu manuskrip Nusantara berbahasa Arab lebih banyak “ditelantarkan”.</p>
<p>Karenanya, melalui refleksi ini, sangat besar harapan bahwa di masa mendatang, berbagai hasil inventarisasi yang terbukti berhasil menunjukkan peradaban tinggi Islam Nusantara, dapat memicu dilakukannya berbagai kajian Islam Nusantara melalui manuskrip dan kitab yang pernah ditulis oleh para pengarang masa lalu, sehingga para sarjana pribumi dapat mengembangkan sendiri kesarjanaan berstandar internasional di bidang kajian manuskrip Islam Nusantara tersebut. Semoga!</p>
<p><a href="window.print()">Print This Page</a></p>
<div class="blogger-post-footer">next<img alt="" width="1" height="1" /></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/naskahkuno.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/naskahkuno.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/naskahkuno.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/naskahkuno.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/naskahkuno.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/naskahkuno.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/naskahkuno.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/naskahkuno.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/naskahkuno.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/naskahkuno.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/naskahkuno.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/naskahkuno.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/naskahkuno.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/naskahkuno.wordpress.com/816/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=816&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/08/05/memahami-islam-nusantara-melalui-manuskrip-dan-kitab-sebuah-refleksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0a7d71ad6a4f120432d25009e38a307?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Oman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/08/naskah-kitab.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sisi Humanis Manuskrip Kitab Nusantara</title>
		<link>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/06/24/sisi-humanis-manuskrip-kitab-nusantara/</link>
		<comments>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/06/24/sisi-humanis-manuskrip-kitab-nusantara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jun 2011 10:40:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oman Fathurahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Malay Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Posting in Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naskahkuno.wordpress.com/2011/06/24/sisi-humanis-manuskrip-kitab-nusantara</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia masa lalu, ketika itu masih disebut Nusantara, telah mewariskan khazanah manuskrip kitab keagamaan dalam jumlah besar. Hal yang sebetulnya membuat Indonesia patut disebut sebagai salah satu pusat keilmuan Islam dunia. Sebut saja kitab tafsir Melayu pertama asal Aceh abad 17, Tarjuman al-mustafid karangan Abdurrauf al-Sinkili (1615-1693), atau kitab hadis Melayu pertama, al-Fawa&#8217;id al-bahiyah fi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=815&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/06/resep.jpg"><img src="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/06/resep.jpg?w=300" alt="" border="0" /></a>Indonesia masa lalu, ketika itu masih disebut Nusantara, telah mewariskan khazanah manuskrip kitab keagamaan dalam jumlah besar. Hal yang sebetulnya membuat Indonesia patut disebut sebagai salah satu pusat keilmuan Islam dunia.</p>
<p>Sebut saja kitab tafsir Melayu pertama asal Aceh abad 17, <span style="font-style:italic;">Tarjuman al-mustafid</span> karangan Abdurrauf al-Sinkili (1615-1693), atau kitab hadis Melayu pertama, <span style="font-style:italic;">al-Fawa&#8217;id al-bahiyah fi al-ahadith al-nabawiyah</span> karangan Nuruddin al-Raniri (w. 1658), kitab masterpiece di bidang tasawuf, <span style="font-style:italic;">Siar al-salikin</span> dan <span style="font-style:italic;">Hidayat al-salikin</span> karangan Abdussmad al-Palimbani asal Palembang, dan masih banyak lagi kitab-kitab lokal penting lainnya dari berbagai wilayah di Indonesia.<br />
<span id="more-815"></span><br />
Banyak orang langsung berfikir adanya kesan serius, angker, berat, dan teramat akademis kala mendengar istilah ‘kitab keagamaan’. Tidak salah juga karena yang disebut sebagai ‘kitab keagamaan’ biasanya memang berisi pembahasan ajaran-ajaran fikih, tauhid, tasawuf, tafsir, hadis, dan topik-topik keilmuan Islam lainnya, seperti dicontohkan di atas.</span></p>
<p>Namun, jika mengamati manuskrip kitab keagamaan Nusantara yang ditulis tangan tiga atau empat ratus tahun lalu dengan lebih mendalam dan terperinci, kesan demikian tidak selalu sepenuhnya benar. Pasalnya, di samping teks-teks akademis yang tertulis rapi sebagai matan di bagian utama manuskrip tersebut, tidak jarang terselip catatan-catatan yang jauh dari kesan ‘ilmiah’ atau ‘akademis’, melainkan lebih menggambarkan sisi-sisi humanis masyarakat pemiliknya.</p>
<p>Dalam sekelompok manuskrip kitab di Zawiyah (semacam ‘pesantren’ di Jawa) Tanoh Abee Aceh Besar yang kebanyakan ditulis pada kurun waktu abad 19 misalnya, kita bisa menjumpai pernak-pernik informasi tentang aneka peristiwa harian yang dialami oleh komunitas Zawiyah Tanoh Abee kala itu. Biasanya, pernak-pernik yang dibubuhkan menggunakan bahasa Arab atau Arab-Melayu tersebut ditulis tak beraturan arah sebagai catatan pias (marginalia) di sekeliling teks.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Tentang Zawiyah Tanoh Abee</span><br />
Di Indonesia, bahkan mungkin di Asia Tenggara, Zawiyah Tanoh Abee di Aceh Besar bisa jadi merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tradisional tertua, yang dirintis oleh Syekh Fayrus al-Baghdadi pada sekitar 1627. Selain sebagai tempat mencetak kader-kader ulama, lembaga ini juga pernah menjadi markas perjuangan rakyat Aceh melawan kolonialisme Belanda, yang salah seorang pemimpin generasi keenamnya bernama Syekh Abdul Wahab (w. 1894).</p>
<p>Berkat jasa tokoh yang terkenal dengan sebutan Teungku Chik Tanoh Abee ini pula, Zawiyah Tanoh Abee menjadi lembaga pendidikan Islam yang menyimpan kitab-kitab keagamaan Islam dalam bentuk manuskrip kuno berbahasa Arab, Melayu, dan Aceh. Konon, jumlahnya pernah mencapai 3.500 an!</p>
<p>Jumlah manuskrip yang cukup fantastis itu, ditambah fakta bahwa isinya sering menggambarkan aspek lokal penting kehidupan di Aceh, telah mendorong Zawiyah Tanoh Abee menjadi pusat perhatian dunia sejak zaman Kolonial.</p>
<p>Mungkin hanya dalam manuskrip Zawiyah Tanoh Abee misalnya, kita bisa menjumpai informasi adanya Sufi perempuan di Aceh abad 19 bernama Hamidah binti Sulayman, yang mendapat ijazah tarekat Syattariyah dari Teungku Chik Tanoh Abee.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Catatan Harian dalam Manuskrip Kitab</span><br />
Dalam perspektif Mazhab Annales yang dimotori Fernand Braudel (1902-1985), peristiwa harian sekecil apapun (<span style="font-style:italic;">daily life</span>) yang terjadi di sekitar manusia dapat dianggap sebagai ‘bersejarah’, dan karenanya penting diamati untuk mengetahui sejarah masyarakat masa lalu.</p>
<p>Sejumlah manuskrip kitab asal Zawiyah Tanoh Abee melaporkan aneka peristiwa dan hal ‘remeh-temeh’ lain yang secara sengaja diselipkan sebagai catatan harian oleh para penyalin atau pemilik kitab masa lalu.</p>
<p>Sebuah manuskrip kitab berjudul <span style="font-style:italic;">Sharh al-Sughra ʻala Umm al-barahin</span> misalnya, mengandung catatan ringan berisi informasi wafatnya seorang bernama Sayyid Abu Bakar di Kampung Jawa pada 14 Ramadan 1196 H/23 Agustus 1782 M.</p>
<p>Catatan tersebut berbunyi: <span style="font-style:italic;">wa-tuwiffiya sayyid Abu Bakar Kampung Jawa pada Bulan Ramadan empat belas hari bulan pada hijrah seribu seratus sembilan puluh enam tahun sanah 1196</span>.</p>
<p>Teks <span style="font-style:italic;">Sharh al-Sughra</span> sendiri adalah kitab Tauhid karangan Muhammad ibn Muhammad Mansur al-Hudʹhudi, dan catatan kematian di atas sama sekali bukan bagian dari pembahasan kitab tersebut, melainkan ’tempelan’ belaka.</p>
<p>Bagi mereka yang membutuhkan informasi tentang gempa dahsyat yang pernah melanda bumi Tanah Rencong pada pertengahan abad 19 juga akan terbantu oleh coretan berbahasa Arab pada manuskrip kitab fikih berjudul <span style="font-style:italic;">Fath al-wahhab</span> karangan Abu Yahya Zakariya al-Ansari (w. 1529).</p>
<p>Pada lembaran kertas Eropa yang sudah berlubang tersebut dijumpai catatan berbunyi: <span style="font-style:italic;">wa-kanat al-zalzalah al-syadidah al-tsaniyah fajr yawm al-khamis tis’ah ayyam min jumadi al-akhir sanah 1248…</span>, yang berarti bahwa sebuah gempa dashyat pernah terjadi untuk kedua kalinya di Aceh pada hari Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H, bertepatan dengan 3 November 1832 M.</p>
<p>Bahkan, catatan yang berkaitan dengan tema seksual pun tidak luput dari goresan pena sang pemilik manuskrip kitab <span style="font-style:italic;">Sharh Umm al-Barahin</span> lain karangan al-Tilimsani (w. 1490), yang membeberkan ‘resep’ supaya seorang laki-laki tidak mengalami ejakulasi dini.</p>
<p>‘Resep’ berbahasa Melayu itu berbunyi: <span style="font-style:italic;">bermula sebaik-baik wati [bersetubuh] itu kita ambil buah manok [Aceh: telur ayam] satu, kita keluar daripadanya yang kuning dan kita tinggal daripadanya yang putih, dan kita ambil kulit manis [kayu manis], kita lunak akan dia, dan kita kunyah akan dia pada buah yang putih, kita minum sekali dengan satu buah manok, maka tiada inzal mani hingga rubu’ [seperempat] malam, dan engkau perbuat yang demikian itu dua kali dengan dua buah manok, niscaya tiada inzal mani hingga nisfu [setengah] malam</span>.</p>
<p>Berbagai kearifan lokal yang diwariskan secara tradisional dan turun temurun juga digoreskan dalam sebuah manuskrip kitab <span style="font-style:italic;">Bidayat al-mubtadi</span>, seperti azimat supaya padi jangan dimakan tikus, supaya anak-anak tidak menangis di malam hari, cara menolak penyakit, obat bau mulut, dan beberapa lainnya.</p>
<p>Catatan yang tidak kurang pentingnya adalah ’amanat’ dari seseorang bernama Sulayman Cucum bin Abdurrahman agar manuskrip miliknya tidak diperjualbelikan, tidak digadaikan, dan tidak dipinjamkan sembarangan. Catatan tersebut dijumpai dalam manuskrip Kitab Tasawuf abad 18 berjudul <span style="font-style:italic;">Hidayat al-Salikin fi Suluk Maslak al-Muttaqin</span> karangan Abdussamad al-Palimbani.</p>
<p>Terjemahan amanat sang pemilik naskah tersebut (aslinya dalam bahasa Arab) selengkapnya berbunyi:</p>
<p><span style="font-style:italic;">Kitab ini milik hamba yang fakir dan bergantung kepada Allah, Sulayman Cucum bin Abdurrahman; segala puji bagi Allah yang Esa, aku mewakafkan kitab ini kepada pencari ilmu, tidak boleh dijual, tidak boleh digadaikan, tidak boleh disewakan, tidak boleh dipinjamkan, tidak boleh dihibahkan, dan tidak boleh diwariskan hingga Allah sendiri yang mewariskannya ke alam, Dia adalah sebaik-baik yang mewariskan; barangsiapa menyalahi amanat ini niscaya ia akan mendapat laknat Allah, Malaikat, dan semua manusia</span>.</p>
<p>Masih banyak lagi khazanah keilmuan dan kearifan lokal dalam manuskrip kitab keagamaan Nusantara, karena jumlah manuskripnya sendiri mencapi puluhan ribu, yang tersimpan di dalam dan di luar negeri.</p>
<p>Tentu khazanah manuskrip keagamaan ini adalah warisan intelektual Islam Indonesia masa lalu yang sangat berharga, serta mencerminkan bagaimana Islam telah menyatu dalam bahasa, budaya, dan karakter masyarakat lokal setempat.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Oman Fathurahman<br />
Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta<br />
Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA)</p>
<p><a href="window.print()">Print This Page</a></p>
<div class="blogger-post-footer">next<img alt="" width="1" height="1" /></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/naskahkuno.wordpress.com/815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/naskahkuno.wordpress.com/815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/naskahkuno.wordpress.com/815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/naskahkuno.wordpress.com/815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/naskahkuno.wordpress.com/815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/naskahkuno.wordpress.com/815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/naskahkuno.wordpress.com/815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/naskahkuno.wordpress.com/815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/naskahkuno.wordpress.com/815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/naskahkuno.wordpress.com/815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/naskahkuno.wordpress.com/815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/naskahkuno.wordpress.com/815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/naskahkuno.wordpress.com/815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/naskahkuno.wordpress.com/815/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=815&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/06/24/sisi-humanis-manuskrip-kitab-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0a7d71ad6a4f120432d25009e38a307?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Oman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/06/resep.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>&gt;Filologi dan Islam Indonesia</title>
		<link>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/27/filologi-dan-islam-indonesia/</link>
		<comments>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/27/filologi-dan-islam-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Mar 2011 06:18:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oman Fathurahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[Book Review]]></category>
		<category><![CDATA[Philology]]></category>
		<category><![CDATA[Posting in Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/27/filologi-dan-islam-indonesia</guid>
		<description><![CDATA[&#62;Filologi dan Islam Indonesia Penyusun: Oman Fathurahman dkk. Penyunting: Muchlis dkk. Penerbit: Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2010. Tebal: xii+284 hlm. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Buku yang baru terbit akhir Desember 2010 lalu ini cukup melegakan, setidaknya bagi mahasiswa yang berminat mengkaji naskah-naskah Nusantara. Dibanding dengan bidang ilmu sosial lain, penulisan buku-buku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=766&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&gt;<a href="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/03/filologi2bdan2bislam.jpg"><img src="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/03/filologi2bdan2bislam.jpg?w=192" border="0" alt="" /></a><span style="font-style:italic;"><span style="font-size:small;">Filologi dan Islam Indonesia</span></span><span style="font-size:small;"><br />
Penyusun: Oman Fathurahman dkk.<br />
Penyunting: Muchlis dkk.<br />
Penerbit: Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat<br />
Kementerian Agama RI, 2010.<br />
Tebal: xii+284 hlm.</span><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Buku yang baru terbit akhir Desember 2010 lalu ini cukup melegakan, setidaknya bagi mahasiswa yang berminat mengkaji naskah-naskah Nusantara. Dibanding dengan bidang ilmu sosial lain, penulisan buku-buku tentang teori dan metode penelitian filologi di Indonesia tergolong sangat jauh tertinggal, meski bukan tidak ada sama sekali. Padahal, filologi adalah salah satu cabang ilmu yang paling dibutuhkan untuk mengkaji khazanah naskah Nusantara yang jumlahnya termasuk kategori salah satu terbanyak di dunia.</p>
<div>
<p>Sejauh ini, publikasi yang berkaitan dengan dunia pernaskahan Nusantara lebih banyak berupa katalog naskah atau hasil penelitian atas sebuah naskah. Adapun buku yang meramu dan mensistematisasi teori dan metode penelitiannya sendiri cenderung ‘jalan di tempat’.<br />
<span id="more-766"></span><br />
Dalam konteks kajian khazanah keagamaan Islam khususnya, kajian atas naskah-naskah Nusantara tersebut terbukti sangat berguna untuk merekonstruksi sejarah, pemikiran, serta tradisi intelektual Islam Nusantara masa lalu. Karenanya, buku yang dapat menjadi rujukan praktik penelitian naskah-naskah Nusantara tersebut sudah seyogyanya tersedia, apalagi geliat untuk melakukan penelitian naskah-naskah keagamaan Nusantara semakin hari semakin berkembang.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><span class="fullpost">Buku ini awalnya dimaksudkan sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa filologi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, baik di tingkat sarjana, terutama pascasarjana, yang mulai tahun 2009 lalu mendapat dukungan beasiswa dari Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang dan Diklat, Kementerian Agama RI.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><span class="fullpost">Akan tetapi, secara umum, buku ini tampaknya dapat dimanfaatkan oleh siapapun yang berminat melakukan kajian pernaskahan, baik naskah keagamaan, naskah sastra, maupun lainnya, karena pembahasan teori dan metode penelitian filologi di dalamnya bersifat umum.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><span class="fullpost">Buku ini terdiri dari empat bagian: pertama, tentang Teori dan Metode Penelitian Filologi; kedua, tentang Kodikologi dan Paleografi; ketiga, tentang Filologi dan Kajian Islam Indonesia; dan keempat, Artikel-artikel pilihan. Tiga bagian pertama ditulis sendiri oleh Oman Fathurahman, sedangkan bagian keempat terdiri dari, berturut-turut, artikel Henri Chambert-Loir tentang &#8220;Kolofon Melayu&#8221;, Ali Akbar tentang &#8220;Khazanah Mushaf Kuno Nusantara&#8221;, Tedi Permadi tentang &#8220;Asal Usul Pemanfaatan dan Karakteristik Daluang&#8221;, Pramono tentang &#8220;Direktori Penelitian Naskah di Minangkabau&#8221;, dan Muchlis tentang &#8220;Konservasi Naskah Klasik dan Khazanah Budaya Keagamaan Indonesia&#8221;.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><span class="fullpost">Semoga buku, yang BELUM SEMPURNA, ini akan menjadi investasi jangka panjang, dan akan selalu bermanfaat sepanjang waktu bagi mereka yang berminat menggali berbagai kearifan lokal dalam naskah-naskah Nusantara dalam rangka memelihara warisan kebudayaan nasional, termasuk di dalamnya warisan tertulis para ulama masa lalu kita.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div>
<p><span class="fullpost">Buku ini hanyalah sebagai ‘pemandu’ awal belaka bagi para pengkaji naskah, karena kesempurnaan kajian naskah yang sesungguhnya adalah dengan sering mempraktikkan dan membuat sebuah edisi naskah. Tidak tertutup kemungkinan bahwa apa yang tertulis dalam buku ini harus diubah atau setidaknya disempurnakan, manakala seorang sudah melakukan kritik teks atas sejumlah naskah.  <span style="font-style:italic;">Wallahu a’lam bissawab</span>.</span></p>
<p><a href="window.print()"></a></p>
</div>
<div><span class="fullpost"><a href="window.print()">Print This Page</a></span></div>
<div class="blogger-post-footer">next</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/naskahkuno.wordpress.com/766/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/naskahkuno.wordpress.com/766/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/naskahkuno.wordpress.com/766/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/naskahkuno.wordpress.com/766/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/naskahkuno.wordpress.com/766/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/naskahkuno.wordpress.com/766/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/naskahkuno.wordpress.com/766/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/naskahkuno.wordpress.com/766/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/naskahkuno.wordpress.com/766/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/naskahkuno.wordpress.com/766/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/naskahkuno.wordpress.com/766/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/naskahkuno.wordpress.com/766/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/naskahkuno.wordpress.com/766/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/naskahkuno.wordpress.com/766/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=766&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/27/filologi-dan-islam-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0a7d71ad6a4f120432d25009e38a307?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Oman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/03/filologi2bdan2bislam.jpg?w=192" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>A Provisional Catalogue of Southeast Asian Kitabs of Sophia University</title>
		<link>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/23/a-provisional-catalogue-of-southeast-asian-kitabs-of-sophia-university/</link>
		<comments>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/23/a-provisional-catalogue-of-southeast-asian-kitabs-of-sophia-university/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Mar 2011 15:40:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oman Fathurahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book Review]]></category>
		<category><![CDATA[Posting in Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/23/a-provisional-catalogue-of-southeast-asian-kitabs-of-sophia-university</guid>
		<description><![CDATA[A Provisional Catalogue of Southeast Asian Kitabs of Sophia University Compiled by: KAWASHIMA Midori (editor in chief), ARAI Kazuhiro, Oman Fathurahman, Ervan Nurtawab, SUGAHARA Yumi, YANAGIYA Ayumi. Tokyo: Institute of Asian Cultures-Center for Islamic Studies, Sophia University, 2010. x + 513 halaman. &#8212;&#8212;&#8212;- Asia Tenggara, khususnya Indonesia, lebih dari cukup untuk disebut sebagai salah satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=814&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/03/catalogue2b001.jpg"><img src="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/03/catalogue2b001.jpg?w=215" border="0" alt="" /></a><span style="font-style:italic;">A Provisional Catalogue of Southeast Asian Kitabs of Sophia University</span></p>
<p>Compiled by: KAWASHIMA Midori (editor in chief), ARAI Kazuhiro, Oman Fathurahman, Ervan Nurtawab, SUGAHARA Yumi, YANAGIYA Ayumi.</p>
<p>Tokyo: Institute  of Asian Cultures-Center for Islamic Studies, Sophia University, 2010.</p>
<p>x + 513 halaman.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Asia Tenggara, khususnya Indonesia, lebih dari cukup untuk disebut sebagai salah satu wilayah penting pusat perkembangan intelektual Islam di luar Arab. Wilayah ini tidak saja telah menghasilkan naskah-naskah tulisan tangan (<i>manuscripts</i>) dalam berbagai bidang keilmuan Islam sejak abad ke 16, melainkan juga kitab-kitab cetak yang diterbitkan sejak abad ke-19 hingga masa kontemporer.</p>
<p>Kini, kitab-kitab, yang di kalangan pesantren di Jawa dikenal sebagai kitab kuning, tersebut, sebagian besar di antaranya telah menjadi bagian dari koleksi Perpustakaan the Institute of Asian Cultures, Center for Islamic Studies of Sophia University (SIAS).<br /><span class="fullpost"><br />Katalog awal yang dapat menuntun peneliti untuk mengakses koleksi kitab cetak Asia Tenggara tersebut kini juga telah diterbitkan (Kawashima [ed.] 2010) atas prakarsa dari sebuah tim proyek penyusunan katalog kitab cetak Asia Tenggara di Sophia University, bekerja sama dengan The Toyo Bunko (Oriental Library), di Tokyo, dan melibatkan peneliti tentang Islam Asia Tenggara dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.</p>
<p>Katalog ini memuat 1.229 judul kitab, yang dihimpun dari berbagai wilayah di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina. Kategori kitab Fiqh dijumpai dalam jumlah terbanyak (20%), menyusul berikutnya Sufism and Ethics (17%), Language and Literature (17%), Theology (14%), Prayer and Primbon (8%), History, Tale, and Biography (7%), Quranic Science (4%), Hadith (4%), Quranic Exegesis (2%), Philosophy and Logic (1%), dan Hadith Science (1%).</p>
<p>Dari segi bahasa, kitab-kitab dalam Koleksi ini sebagian besar adalah bahasa Arab (43%), menyusul kemudian Melayu dan Bahasa (24%), Jawa (19%), Madura (6%), Sunda (6%), Iranon (3%), dan satu judul di antaranya berbahasa Tausug (0%).</p>
<p>Selain para pengarang Arab, kitab-kitab yang berada dalam Koleksi Sophia University ini juga merupakan karya tulis, atau karya terjemahan, para ulama lokal Nusantara, dan yang terbanyak di antaranya adalah karangan Ahmad Makki ibn ‘Abd Allah Mahfuz (27%), Ahmad Samit (21%), ‘Abd al-Majid Tamim Pamekasan (16%), Nawawi ibn ‘Umar al-Jawi al-Bantani (12%), Bishri Mustafa Rembang (21%), dan Dawud ibn ‘Abd Allah al-Fatani (12%).</p>
<p>Dari urutan enam terbesar penulis kitab di atas saja, tampak bahwa para pengarang asal Indonesia memang sangat berpengaruh dalam pembentukan tradisi intelektual Islam di Asia Tenggara secara keseluruhan.</p>
<p>Sayangnya, Katalog ini memang tidak dijual bebas, meski sejumlah sarjana dan perpustakaan terkait di berbagai negara telah dikirimi oleh Tim di Sophia University.</span>
<div></div>
<div><span class="fullpost"><a href="window.print()">Print This Page</a></span></div>
<div class="blogger-post-footer">next<img width='1' height='1' src='' alt='' /></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/naskahkuno.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/naskahkuno.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/naskahkuno.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/naskahkuno.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/naskahkuno.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/naskahkuno.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/naskahkuno.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/naskahkuno.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/naskahkuno.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/naskahkuno.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/naskahkuno.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/naskahkuno.wordpress.com/814/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/naskahkuno.wordpress.com/814/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/naskahkuno.wordpress.com/814/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=814&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/23/a-provisional-catalogue-of-southeast-asian-kitabs-of-sophia-university/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0a7d71ad6a4f120432d25009e38a307?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Oman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/03/catalogue2b001.jpg?w=215" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>&gt;Catalogue of Dayah Tanoh Abee Manuscripts</title>
		<link>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/22/catalogue-of-dayah-tanoh-abee-manuscripts/</link>
		<comments>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/22/catalogue-of-dayah-tanoh-abee-manuscripts/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Mar 2011 03:35:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oman Fathurahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/22/catalogue-of-dayah-tanoh-abee-manuscripts</guid>
		<description><![CDATA[&#62;In the last July 2010, the book &#8220;Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar&#8221; (Catalogue of Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar Manuscripts)&#8221; has been published by Komunitas Bambu, in collaboration with the Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=764&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&gt;<a href="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/03/cover2b200710.jpg"><img src="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/03/cover2b200710.jpg?w=250" border="0" alt="" /></a>In the last July 2010, the book &#8220;<span style="font-style:italic;">Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar&#8221; (Catalogue of Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar Manuscripts)</span>&#8221; has been published by Komunitas Bambu, in collaboration with the Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM)  Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, and Zawiyah Tanoh Abee itself.<br />
<span id="more-764"></span><br />
This catalogue includes 280 manuscripts or 367 texts, which are categorized according to the field as following:</span></p>
<p>a.     Ilmu al-Quran (Quranic science), which is marked as IQ, including 7 texts;</p>
<p>b.     Hadis (The Prophetic tradition), which is marked as Hd, including 14 texts;</p>
<p>c.     Tafsir (Quranic Exegesis), which is marked as Tf, including 16 texts;</p>
<p>d.     Tauhid (Theology), which is marked as Th, including 54 texts;</p>
<p>e.     Fikih (Islamic Jurisprudence), which is marked as Fk, including 99 texts;</p>
<p>f.      Tasawuf (Sufism), which is marked as Ts, including 55 texts;</p>
<p>g.     Tatabahasa (Arabic Grammar), which is marked as TB, including 78 texts;</p>
<p>h.     Logika (Logic), which is marked as Lg, including 4 texts;</p>
<p>i.      Ushul Fikih (Fundamentals of the Fiqh), which is marked as UF, including 2 texts;</p>
<p>j.      Sejarah (History), which is marked as Sj, including 10 texts;</p>
<p>k.     Zikir dan Doa (Dhikr and Prayer), which is marked as ZD, including 17 texts;</p>
<p>l.      Lain-lain (Miscellaneous), which is marked as LL, including  11 texts.</p>
<p>We thank to all our dedicated colleagues involved in the Project and publication of this book.</p>
<p>The introduction of the editor can be downloaded <a href="http://manassa.org/pengantar%20oman.pdf">here</a>, while the foreword of Henri Chambert-Loir, please click <a href="http://manassa.org/pengantar%20Henri.pdf">here</a>.<br />
<a href="window.print()">Print This Page</a></p>
<div class="blogger-post-footer">next</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/naskahkuno.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/naskahkuno.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/naskahkuno.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/naskahkuno.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/naskahkuno.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/naskahkuno.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/naskahkuno.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/naskahkuno.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/naskahkuno.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/naskahkuno.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/naskahkuno.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/naskahkuno.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/naskahkuno.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/naskahkuno.wordpress.com/764/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=764&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/22/catalogue-of-dayah-tanoh-abee-manuscripts/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0a7d71ad6a4f120432d25009e38a307?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Oman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/03/cover2b200710.jpg?w=250" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>&gt;Islam dan Diplomasi</title>
		<link>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/20/islam-dan-diplomasi/</link>
		<comments>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/20/islam-dan-diplomasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Mar 2011 04:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oman Fathurahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[Book Review]]></category>
		<category><![CDATA[Malay Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/20/islam-dan-diplomasi</guid>
		<description><![CDATA[&#62;Book information: Henri Chambert-Loir, Massir Q. Abdullah, Suryadi, Oman Fathurahman, H. Siti Maryam Salahuddin, Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kerajaan Bima, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), in collaboration with École française d&#8217;Extrême-Orient (EFEO), and Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Maret 2010, 222 pages. _______________________ Some scholars on Indonesian manuscript studies have [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=761&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&gt;<a href="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/03/bukuiman0.jpg"><img src="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/03/bukuiman0.jpg?w=200" border="0" alt="" /></a><span style="font-size:85%;"><span style="font-style:italic;">Book information</span>:<br />
Henri Chambert-Loir, Massir Q. Abdullah, Suryadi, Oman Fathurahman, H. Siti Maryam Salahuddin, <em>Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kerajaan Bima</em>, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), in collaboration with École française d&#8217;Extrême-Orient (EFEO), and Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Maret 2010, 222 pages.</span><br />
_______________________</p>
<p>Some scholars on Indonesian manuscript studies have contributed to publish a book related to the Bima Sultanate, entitled <span style="font-style:italic;">Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kerajaan Bima (The Faith and Dicplomacy: Fragments of the History of Bima Sultanate</span>). They are Henri Chambert-Loir, Massir Q. Abdullah, Suryadi, Oman Fathurahman, and H. Siti Maryam Salahuddin.</p>
<p>This book presents three articles on manuscripts originated from the Bima Sultanate. Those manuscripts were written between 1775 until 1882.<br />
<span id="more-761"></span><br />
The cover of this book shows an illustration of the signature of Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah, which is taken from the manuscript &#8220;<span style="font-style:italic;">Perjanjian antara Kerajaan Bima dan Kompeni Belanda&#8221; (the agreement between the Bima Sultanate and the Dutch Collonial)</span>&#8220;, dated on 26 May 1792.</span></p>
<p>Henri Chambert-Loir&#8217;s article, in collaboration with Massir Q. Abdullah deals with a fragment of Bo&#8217;, namely a daily notes from Bima, entitled <span style="font-style:italic;">Bumi Luma Rasanae</span>, which was written in the residence of the Bima noble between 1765-1790. This article shows an excellent portrait of the Bima Sultanate under the Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah (pp. 53-104).</p>
<p>The second article, written by a Minangkabau scholar, Suryadi, presents a transcription and analysis of 10 diplomatic letters by Sultan Abdul Hamid in the later periode (1790-1818). All those letters were addressed to the Dutch General Governor, but one of them to Syahbandar in Batavia.</p>
<p>The letters indicate diplomatic efforts and strategies of the Sultan Abdul Hamid to develop a relationship between the Sultanate and the Dutch administration. Contrary to what the text <span style="font-style:italic;">Bumi Luma Rasanae</span> described, this article shows a general portrait of the economical decline of the Sultanate at that time.</p>
<p>Lastly, Oman Fathurahman, made an edition of <span style="font-style:italic;">Jawhar al-ma&#8217;arif</span>, a Malay text by a Bima noble origin, Haji Nur Hidayatullah al-Mansur Muhammad Syuja&#8217;uddin. The text contains two main discussions: the first one is on the Sultanate ethics, and the second one is on the occult sciences should be learnt by any Bima rulers. The text mentions that the occult sciences discussed here are taken from the Ahmad ibn ‘Ali al-Buni&#8217;s <span style="font-style:italic;">Shams al-ma&#8217;arif al-kubra</span>.</p>
<p>The editors of the book, Henri Chambert-Loir and H. Siti Maryam Slahuddin hope that philologists and historians should collaborate to make such an inventory of any local sources in Indonesia and study them to get a comprehensive portrait of the sultanates in the past and place them in the context of history of Indonesia as a whole (h. 16).</p>
<p><a href="window.print()">Print This Page</a></p>
<div class="blogger-post-footer">next</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/naskahkuno.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/naskahkuno.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/naskahkuno.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/naskahkuno.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/naskahkuno.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/naskahkuno.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/naskahkuno.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/naskahkuno.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/naskahkuno.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/naskahkuno.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/naskahkuno.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/naskahkuno.wordpress.com/761/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/naskahkuno.wordpress.com/761/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/naskahkuno.wordpress.com/761/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=761&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/03/20/islam-dan-diplomasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0a7d71ad6a4f120432d25009e38a307?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Oman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/03/bukuiman0.jpg?w=200" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>&gt;Humboldt Kolleg</title>
		<link>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/02/25/humboldt-kolleg/</link>
		<comments>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/02/25/humboldt-kolleg/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Feb 2011 04:22:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Oman Fathurahman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Activities]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://naskahkuno.wordpress.com/2011/02/25/humboldt-kolleg</guid>
		<description><![CDATA[&#62;&#8220;Synergy, Networking and the Role of Fundamental Research Development in Asian&#8221; in conjunction with the International Conference on Natural Sciences (ICONS 2011) July 9-11, 2011, Malang-Indonesia Website: http://humboldt-icons.machung.ac.id/index.php &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; We proudly present the first Humboldt Kolleg activity in Indonesia. This activity is the result of collaboration between Ma Chung University and Humboldt Club Indonesia supported [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=759&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&gt;<a href="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/02/humboldt.png"><img src="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/02/humboldt.png?w=300" border="0" alt="" /></a>&#8220;Synergy, Networking and the Role of Fundamental Research Development in Asian&#8221;<br />
in conjunction with the International Conference on Natural Sciences (ICONS 2011)<br />
July 9-11, 2011, Malang-Indonesia<br />
Website: <a href="http://humboldt-icons.machung.ac.id/index.php">http://humboldt-icons.machung.ac.id/index.php</a><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>We proudly present the first Humboldt Kolleg activity in Indonesia. This activity is the result of collaboration between Ma Chung University and Humboldt Club Indonesia supported by The Alexander von Humboldt Foundation.</p>
<p>The activity designed specifically for Humboldtians in South East Asia can be followed by general participants as one of the aims to introduce the useful programs of the Alexander von Humboldt Foundation. It is organized by scientists from various fields of study who received a Humboldt Fellowship, a very prestigious grant from the Alexander von Humboldt Foundation for those who excel in their respective fields (http://www.humboldt-foundation.de).<br />
<span id="more-759"></span><br />
The Humboldt Kolleg activities will be held in conjunction with The International Conference on Natural Sciences (ICONS) 2011 which will be open to public, but especially targeted at Humboldtians, graduate students, researchers, and lecturers. The theme selected for Humboldt Kolleg is intended to strengthen synergy, networking, and the role of scientists in Indonesia and South East Asia in developing basic sciences and their application for the advancement of South East Asia.</span></p>
<p>The themes selected for ICONS 2011 are (1) the role of natural sciences in conserving natural resources, (2) the role of natural sciences in overcoming global warming, (3) the role of natural sciences in developing science and technology, and (4) the role of natural sciences in improving human welfare. Representatives of The Alexander von Humboldt Foundation will present Alexander von Humboldt programs and other programs from their partners such as DAAD and APD. The programs will be presented in such a way as to draw the interest of graduate students and researchers who have not known The Alexander von Humboldt Foundation.</p>
<p>Through this program there are many benefits to be gained, including the opportunity for oral and poster presentations to the Humboldtians which will be published in an ISBN/ISSN book entitled Humboldtians in South East Asia: Research interests and future prospects. Meanwhile, through ICONS 2011, both public participants and Humboldtians can publish the result of oral and poster presentations through proceedings published by Shaker-Verlag (being explored).</p>
<p>We look forward to seeing you in July.<br />
<a href="window.print()">Print This Page</a></p>
<div class="blogger-post-footer">next</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/naskahkuno.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/naskahkuno.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/naskahkuno.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/naskahkuno.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/naskahkuno.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/naskahkuno.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/naskahkuno.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/naskahkuno.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/naskahkuno.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/naskahkuno.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/naskahkuno.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/naskahkuno.wordpress.com/759/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/naskahkuno.wordpress.com/759/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/naskahkuno.wordpress.com/759/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=naskahkuno.wordpress.com&amp;blog=2465423&amp;post=759&amp;subd=naskahkuno&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://naskahkuno.wordpress.com/2011/02/25/humboldt-kolleg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0a7d71ad6a4f120432d25009e38a307?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Oman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://naskahkuno.files.wordpress.com/2011/02/humboldt.png?w=300" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
