Jangan Menjadi Marawi

June 21, 2017

KOMPAS, 21 Juni 2017
——

Saya tak pernah membayangkan kota Marawi di Mindanao, Filipina selatan, akan mengalami tragedi terburuknya saat ini. Saat melakukan riset atas manuskrip-manuskrip kuno di Marawi bersama Profesor Kawashima Midori dari Sophia University, Tokyo, Februari 2012, situasi keamanan masih cukup terkendali. Obrolan dengan tokoh agama dan masyarakat setempat saat itu pun nyaris tidak pernah menyinggung adanya kemungkinan kota ini diakuisisi oleh kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam.

Sebagian besar tokoh Islam yang kami temui di Marawi berpaham Islam moderat, alumni Al Azhar, Kairo, dan sangat menghormati Muslim Indonesia. Kami sangat leluasa menjalankan misi penyelamatan manuskrip kuno sebagai benda bersejarah (cultural heritage) di Marawi, melalui digitalisasi dan kajian. Semua berubah ketika kelompok militan Maute muncul ke permukaan!


Pemusnahan situs 
Konflik bersenjata di Marawi hingga kini belum berangsur pulih bahkan lebih buruk sejak kelompok militan Maute yang berafiliasi ke Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), mulai menyerang dan mengambil alih kota Marawi pada 23 Mei lalu. Ini menambah deretan konflik bersenjata yang berkepanjangan terjadi di Timur Tengah.

Konflik bersenjata tidak hanya selalu meninggalkan tragedi kemanusiaan, melainkan juga penghancuran artefak-artefak kebudayaan. Militan radikal di wilayah konflik tak segan menyasar perusakan rumah ibadah, lembaga pendidikan, situs arkeologis, museum, perpustakaan, monumen serta pembakaran manuskrip-manuskrip bersejarah. Ini juga mulai terjadi di kota Marawi.

Bagi kelompok militan ekstremis, pemusnahan situs bersejarah (cultural cleansing) adalah bagian dari taktik perang mereka untuk menggoreskan “luka jangka panjang” dalam sejarah dan peradaban umat manusia.

Memperhatikan pola dan taktik kaum ekstremis terkait penghancuran situs bersejarah yang semakin nyata tersebut, pada 24 Maret lalu, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat menyepakati “Resolusi 2347 (2017)” tentang protection of the heritage di daerah konflik. Resolusi ini menganggap cultural cleansing sebagai kejahatan perang (war crime) yang harus dicegah oleh semua pihak. “Weapons are not enough to defeat violent extremism. Building peace requires culture also; it requires education, prevention, and the transmission of heritage”, demikian penegasan Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova.

Kini, Marawi menjadi kepanjangan misi kelompok radikal NIIS di wilayah Asia Tenggara. Laporan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) di Manila mengonfirmasi telah terjadinya perusakan rumah ibadah dan fasilitas pendidikan Mindanao State University (MSU). Bukan tak mungkin, mereka juga akan menghancurkan manuskrip-manuskrip bersejarah di Marawi yang sangat tak ternilai karena keunikannya, dan karena tak diketahui adanya salinan manuskrip-manuskrip itu di perpustakaan manapun di dunia.

Dua koleksi 
Adalah Aleem Usman, tokoh agama di Marawi yang menjadi kunci “penemuan” dua koleksi manuskrip kuno di kota Marawi, dan memandu kami melewati tempat pemeriksaan (checkpoint) keamanan lima tahun lalu. Dua koleksi tersebut adalah Al-Imam As-Sadiq (AS) Library, Husayniyyah Karbala, serta Shiek Ahmad Basher Memorial Research Library. Sayang, Aleem Usman wafat pada 2014 lalu.

Koleksi pertama warisan Haji Muhammad Said, atau Sayyidna, seorang ulama pengembara abad ke-19 asal Magonaya, Mindanao, yang pernah singgah di Borneo, Lingga, Johor, dan Palembang, sebelum tujuh tahun belajar di Haramayn. Sedangkan koleksi kedua milik perpustakaan Jamiatu Muslim Mindanao, sekolah Arab tertua di Filipina selatan. Dari dua koleksi ini, ada sekirtar 100 manuskrip yang mayoritas berbahasa Melayu selain Arab dan Maranao.

Manuskrip-manuskrip di Marawi adalah bukti tertulis sejarah pertemuan dan dialog agama Islam abad ke-18 dan 19 dengan keragaman budaya lokal setempat. Tidak beda dengan di Indonesia, manuskrip-manuskrip semacam itu sangat penting dalam konteks memahami watak Islam Nusantara yang mampu berdialog dengan keragaman, beradaptasi dengan tradisi lama, bukan sebaliknya, Islam yang hanya berkiblat pada satu tafsir kebenaran tunggal.

Sejumlah teks juga mengonfirmasi kuatnya jaringan keilmuan sarjana Muslim di Filipina selatan ini dengan saudara Melayu-nya di Aceh, Palembang, Pattani, Banjarmasin, bahkan Banten dan Cirebon. Pengetahuan ini bahkan belum disebut sejarawan terkemuka Azyumardi Azra ketika menulis magnum opus-nya tentang “Jaringan Ulama Nusantara” (1994).

Kini, saya benar-benar tidak tahu, bagaimana nasib keberadaan manuskrip-manuskrip di dua koleksi di Marawi ini. Padahal, menurut rencana, misi penyelamatan dan kajian akan dikembangkan ke wilayah-wilayah potensial lainnya dalam koleksi-koleksi lain yang mulai terkuak, seperti Koleksi Guro sa Masiu, Ismael Yahya, Nuska Alim, Abdulmajeed Ansano, Guro Alim Saromantang, dan Sheikh Abdul Ghani.

Bagi saya, manuskrip-manuskrip tersebut adalah saksi bisu akar identitas “asli” masyarakat Muslim Melayu Mindanao yang sebelumnya moderat dengan tarekat dan neo-sufisnya, dan kini bergeser menjadi militan radikal. Pemerintah Filipina dan lembaga-lembaga semisal ICRC memiliki kewajiban moral atas nama peradaban umat manusia, untuk menjalankan misi protection of heritage, di samping protection of civilians yang telah sangat baik dilaksanakan.

Kita berharap Indonesia tidak menjadi Marawi!

Oman Fathurahman
Guru Besar Filologi FAH; Peneliti Senior PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

The Archive of Yogyakarta digitised: The British Library

October 10, 2016

The British Library baru saja mempublikasikan hasil digitalisasi naskah-naskah asal Kraton Yogyakarta abad ke 19, sehingga ribuan halaman naskah terkait sejarah Kraton Yogyakarta itu kini dapat dibaca secara online oleh khalayak luas. Ini juga merupakan kesempatan besar untuk para mahasiswa dan peneliti Indonesia terkait sejarah Jawa khususnya, untuk menggali kekayaan khazanah manuskrip kita.

Mengingat pentingnya naskah-naskah tersebut, di bawah ini saya reposting informasinya. Untuk keterangan lengkap dengan sejumlah foto menarik, silahkan berkunjung langsung ke laman Blog the British Library tersebut.

———————
The ‘Archive of Yogyakarta’ refers to a collection of some four hundred manuscript documents in Javanese dating from 1772 to 1813, originating from the court of Yogyakarta. A highly important source for the political, economic, social, administrative and legal history of central Java in the late eighteenth and early nineteenth centuries, the archive comprises official reports, letters, accounts and other documents as well as the private papers of Sultan Hamenkubuwana II (r. 1792-1810, 1811-1812, 1826-1828) and his successor Sultan Hamengkubuwana III (r. 1812-1814).


Together with many other Javanese manuscripts on literary, historical and religious subjects held in the royal library, the documents were taken during the British assault on the palace of Yogyakarta in June 1812, and subsequently entered the private collections of three senior officials of the British administration in Java (1811-1816): Thomas Stamford Raffles, Lieutenant-Governor of Java; Colin Mackenzie, Chief Engineer; and John Crawfurd, then Resident of Yogyakarta.

The documents were evidently selected by Crawfurd, whose collection was later acquired by the British Museum in 1842, and is now held in the British Library. Currently bound in four volumes (Add. 12303, Add. 12341, Add. 12342 and Add. 14397), the Archive of Yogyakarta has recently been fully digitised and can be accessed directly through the hyperlinks in this post or on the British Library’s Digitised Manuscripts website.

The ‘Archive of Yogyakarta’ is the name given to this treasure trove of documents by the historian Peter Carey, who stresses the extraordinary and perhaps unique historical value of the collection: ‘For almost the first time in Javanese, and perhaps even in Southeast Asian, history, pre-colonial studies can be based on the activities of local actors themselves documented by their own records’ (Carey & Hoadley 2000: 435).

Under the auspices of the British Academy, the complete Archive has been published in two volumes, with detailed summaries of the contents and full transliterations of the Javanese text for each document. The first volume presents 106 documents on politics and internal court matters (Carey 1980), while the second volume focuses on economic and agrarian affairs (Carey & Hoadley 2000). But the second volume also draws on the first in presenting all 420 documents as sources for the history of the Yogyakarta administration in the following five categories: 1) governmental decisions, including letters of appointment, royal orders, legal digests, documents on statute law, treaties and judicial decisions; 2) material resources in the form of appanages [i.e. sources of provision for members of the royal house] and military resources of the realm; 3) court correspondence, both incoming and outgoing; 4) accountancy records, showing both credit in the form of taxes, loans and contributions, and debit from allowances and cash outlays; and 5) miscellaneous documents, including those relating to religious affairs.

This thematic presentation was achieved with considerable effort, for three of the four volumes were bound by Crawfurd in a completely random order: ‘land grants for royal officials and lists of revenue payments are mixed up with sumptuary laws [i.e. laws to limit extravagant consumption], political correspondence between the Sultan and the Residents and notes on disputes over villages. More intimate items such as allowances for court ladies, petty kraton accounts, payments for pradikan officials, challenges to cockfights, instructions on fasting (amutih, patih geni) and letters of praise with imagery from the wayang are also interspersed indiscriminately throughout the three volumes’ (Carey 1980: 3).

The historical value of this archive is beyond doubt, primarily for – as highlighted by the compilers of the second volume – ‘the lack of correspondence between what contemporary European accounts deemed important and what the contents of The Archive of Yogyakarta seems to suggest is vital from a Javanese perspective’ (Carey & Hoadley 2000: 4).

But the documents are also an exceptionally rich source for the study of formal Javanese diplomatics, to be mined for data on the palaeography, phraseology, nomenclature and internal structure of different types of governmental documents, as well as guiding principles on the use and placement of seals, choice of script (whether the Indic-derived Javanese script, read from left to right, or Pégon, the adapted form of Arabic script which is read from right to left) and materials (whether imported Dutch or other European rag paper, or dluwang, Javanese paper made from the beaten bark of the paper mulberry tree).

The four volumes of the Archive of Yogyakarta have been digitised by the British Library as part of an ongoing collaboration with the Libraries and Archives Board of the Special District of Yogyakarta (Badan Perpustakaan and Arsip Daerah Istimewa Yoyakarta, BPADIY), focusing on those Javanese manuscripts in the British Library identified by Carey as originating from Yogyakarta.

On a recent visit to Yogyakarta, on 22 September 2016 copies of the digitised images of the Archive of Yogyakarta were presented to His Excellency the Governor of Yogyakarta, H.M. Sri Sultan Hamengkubuwana X (the sultan of Yogyakarta is the only hereditary ruler in Indonesia also accorded a constitutional role, in recognition of the heroic support of Sultan Hamengkubuwana IX for the fledgling Republic of Indonesia during the Indonesian revolution, 1945-1949).

Print This Page

Riset dan Menulis: Pengalaman Pribadi (1)

September 16, 2016
ASAFAS, Kyoto University

Sulit melukiskan emosi yang meledak-ledak saat saya sudah menemukan alur ide yang akan ditulis, dengan tumpukan referensi primer dan sekunder yang siap kutip, lengkap dengan nomor-nomor halamannya, dan terutama dengan mutu informasi yang meyakinkan.

Luapan emosi semacam itu biasanya semakin menjadi-jadi saat saya memulai menulis paragraf pertama, bersambung ke paragraf kedua, ketiga, dan seterusnya. Alur ide dalam kepala sering melintas lebih cepat ketimbang sepuluh (kadang menggunakan ‘sebelas’) jari yang menari-nari di atas papan tombol (keyboard) komputer, sehingga saya seirngkali memanfaatkan aplikasi tertentu untuk menyimpan ide-ide yang berseliweran. Ini penting, biar gak lupa saat dibutuhkan.

Tapi, hal itu biasanya terjadi kalau tahap riset sudah masuk paruh kedua dari keseluruhan proses yang direncanakan. Pada paruh pertama, ada tahap paling krusial yang sangat menentukan bermutu atau tidaknya luaran (output) sebuah proses penelitian, yakni pertanyaan riset (research question) macam apa yang diajukan? argumen seperti apa pula yang akan dirumuskan?

Seorang mahasiswa/peneliti pemula terkadang salah kaprah merumuskan pertanyaan penelitian. Mereka lebih sering terjebak pada pilihan dan penggunaan ‘kata tanya’: apa, bagaimana, sejauhmana, mengapa, dan seterusnya, dengan melupakan akar masalahnya sendiri yang perlu dipecahkan melalui sebuah proses penelitian.

Biasanya, pertanyaan riset yang baik itu muncul sebagai akibat saja dari sikap penasaran dan keingintahuan lebih lanjut (curiosity) atas bacaan-bacaan yang dilahap oleh sang peneliti. Artinya, sebuah pertanyaan penelitian nyaris tidak mungkin ditemukan jika tidak ada proses membaca sebelumnya, dan mendialogkan satu bacaan dengan bacaan yang lain.

Ketika dialog bacaan terjadi, dan berbagai referensi yang saling terkait pun dapat dicarikan benang merahnya satu dengan yang lain, maka peta besar sebuah topik/persoalan akan kelihatan ibarat peta dunia di hadapan kita, apakah masih ada celah (gap) yang perlu diisi dalam topik yang dikaji itu, perlu dibantah, perlu disempurnakan, perlu didukung, atau sebetulnya sudah tidak ada peluang sama sekali, sehingga perlu membuat peta masalah baru?

Jika seorang peneliti merasa memiliki data baru yang belum hadir dalam peta masalah yang ada di hadapannya, dan ternyata belum disentuh oleh para sarjana sebelumnya, padahal data baru yang ia miliki itu diyakini dapat mengisi kekosongan, menyempurnakan kekurangan, atau bahkan memberikan kesimpulan yang berbeda, maka bingo! Dia baru saja menemukan sebuah amunisi research question yang baik.

Soal merumuskannya nanti dalam kalimat, apakah menggunakan kata: ‘apa’, ‘bagaimana’, ‘sejauhmana’, ‘mengapa’, atau lainnya, itu soal teknis belaka. Tanpa menggunakan salah satu kata tanya itupun, mutu pertanyaan penelitiannya tidak akan berkurang sedikitpun. Jadi, urutannya jangan dibalik! Sibuk memikirkan pilihan kata tanya, padahal isi pertanyaannya sendiri belum tentu merupakan sebuah masalah.

Ini biasanya terjadi kalau sang ‘peneliti’ (kali ini pakai tanda kutip!) sebetulnya tidak mau, bukan tidak bisa, melewati tahap membaca dan memetakan topik yang mau dikaji terlebih dahulu.

Saya paling enggan menjawab pertanyaan mahasiswa filologi tahap akhir: “Pak, ada manuskrip yang penting dikaji tidak untuk bahan penelitian saya?” Bagi saya, itu pertanyaan terbodoh [maaf] yang diajukan calon peneliti. Akar masalah penelitian tidak bisa muncul dari orang lain, harus dari diri sendiri. Orang lain hanya dapat diajak diskusi memetakan, menstimulus, atau mempertajam topik yang menjadi minat kajian kita. Pada akhirnya, sang peneliti sendiri yang harus memutuskan. Penting menurut orang lain belum tentu juga penting menurut kita.

Saya bisa memastikan bahwa pertanyaan macam di atas hanya mungkin diajukan oleh ‘peneliti’ yang malas, atau setidaknya kurang banyak, membaca, sehingga tidak mampu membuat peta masalah.

Sebaliknya, saya paling suka merespon pertanyaan mahasiswa semisal ini: “Pak, saya sudah membaca sumber bacaan yang direkomendasikan, lalu saya bandingkan dengan sumber lain yang saya peroleh. Menurut saya, kesimpulan kedua sarjana itu berbeda. Bagaimana menurut pandangan Bapak?” Biasanya, bekal bacaan sang mahasiswa yang cukup kaya itu menstimulus diskusi dua arah yang produktif, dan saya dengan senang hati melengkapi.

[Bersambung]

The British Library’s Endangered Archives Programme: Call for Applications

September 1, 2016

The Endangered Archives Programme at the British Library is now accepting grant applications for the next round of funding. Detailed information on the timetable, criteria, eligibility and application procedures is available on the Programme’s website. The deadline for receipt of preliminary grant applications is 4 November 2016.

Since it was established twelve years ago, the Programme has so far funded over 300 projects in 80 countries worldwide, with grants totalling over £7 million. The Programme is funded by Arcadia, in pursuit of one of its charitable aims to preserve endangered cultural heritage. The aim of the Programme is to contribute to the preservation of archival material worldwide that is in danger of destruction, neglect or physical deterioration. The endangered archival material will normally be located in countries where resources and opportunities to preserve such material are lacking or limited.

The Programme’s objectives are achieved principally by awarding grants to applicants to locate relevant endangered archival collections, where possible to arrange their transfer to a suitable local archival home, and to deposit digital copies with local institutions and the British Library. The digital collections received by the British Library are made available on the Programme’s website for all to access, with currently over 5 million images and more than 25,000 sound recordings available online. Pilot projects are particularly welcomed, to investigate the survival of archival collections on a particular subject, in a discrete region, or in a specific format, and the feasibility of their recovery.

To be considered for funding under the Programme, the archival material should relate to a ‘pre-modern’ period of a society’s history. There is no prescriptive definition of this, but it may typically mean, for instance, any period before industrialisation. The relevant time period will therefore vary according to the society.

For the purposes of the Programme, the term ‘archival material’ is interpreted widely to include rare printed books, newspapers and periodicals, audio and audio-visual materials, photographs and manuscripts.

The Programme is keen to enhance local capabilities to manage and preserve archival collections in the future and it is essential that all projects include local archival partners in the country where the project is based. Professional training for local staff is one of the criteria for grant application assessment, whether it is in the area of archival collection management or technical training in digitisation. At the end of the project, equipment funded through the Programme remains with the local archival partner for future use.

The Programme is administered by the British Library and applications are considered in an annual competition by an international panel of historians and archivists.

This year as well as having a downloadable application on the EAP website, we are also offering an online application form here.

For further details of application procedures and documentation as well as EAP projects and collections, please visit the Programme’s website.

Web: http://eap.bl.uk/
Email: endangeredarchives@bl.uk

Print This Page

Shattariyah Silsilah in Aceh, Java and the Lanao Area of Mindanao: A New Book

April 4, 2016

Title: Shattariyah Silsilah in Aceh, Java and the Lanao Area of Mindanao
Author: Oman Fathurahman
Publisher: ILCAA-TUFS, Tokyo
Year of Publication: March 2016

==========
This book provides primary sources of the Shaṭṭārīyah silsilah in Southeast Asia as developed in Aceh, Java, and Mindanao. It examines the networks of the Order between the 17th and 19th centuries, arguably the most important formative periods of the Islamic history in these regions.

The majority studies on the history of the Shaṭṭārīyah in Southeast Asia highlighted the Acehnese scholar ‘Abd al-Ra’ūf b. ‘Alī al-Jāwī al-Fanṣūrī (1615-1693) as the main khalīfah who expanded the order in this region while paying little attention to other silsilahs, as mentioned in certain Indonesian manuscripts. Therefore, this study examines the complexity of the Shaṭṭārīyah silsilah in this region, which was spread not only through ‘Abd al-Ra’ūf’s line but also al-Kūrānī, Ḥasan al-‘Ajamī, and Ṣāliḥ Khaṭīb.

The primary sources referred to in this study include several Islamic manuscripts (written in Arabic, Malay, Javanese, and Sundanese) that originated from Aceh, Java, and the Lanao area of Mindanao, although some of these are currently preserved in collections elsewhere. The digitized manuscripts, which are the most important sources, were available due to previous collaborative efforts to preserve Islamic manuscripts by several national and international institutions.

In addition, this study demonstrates how the availability of digitized manuscripts, alongside the spectacular emergence of digital technology, provides a considerable advantage for researchers who study manuscripts. This is important to stress because the digitization of manuscripts is merely the first step toward their preservation. The subsequent, more important steps include studying, publishing, sharing, disseminating, and distributing their knowledge and wisdom to a wider audience.

In the context of Southeast Asia in particular, manuscript studies can be incorporated within local Islamic studies, since the emergence of certain manuscripts cannot be easily separated from the early development of Islam in the region.

In this philological study, the author scrutinizes thirteen digitized Islamic manuscripts to show the complexity of Shaṭṭārīyah Order and its great influence over Javanese Muslim elites, including three female Sufis of Javanese aristocratic background, namely Ratu Raja Fatimah and Nyimas Ayu Alimah of Cirebon Palace; and, last but not least Kanjeng Ratu Kadipaten, the influential wife of Pangeran Mangkubumi of Yogyakarta Palace, who played a prominent role in shaping the spirituality of a Javanese mystic and leader of the ‘holy war’ against European colonialism, Prince Dipanagara.

Contrary to previous studies, this book emphasizes the role of local networks of “commoners” in the Shaṭṭārīyah in spreading it into a wider context, some of whom had to live in exile during the Dutch colonialism, such as Kyai Hasan Maolani, the most influential local ulama from Lengkong, Kuningan, West Java, who was banished to Manado, North Sulawesi. Print This Page

Raibnya Sang Naskah

February 6, 2016
Artikel ini terbit di koran Kompas, 5 Februari 2016. Saya menambahkan beberapa paragraf untuk penajaman.

==========
Berita kecil di harian Kompas, 18 Januari 2016, tentang raibnya naskah kuno Jawa-Tiongkok koleksi Museum Reksopustoko Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah, nyaris luput dari perhatian publik.
Maklumlah, hiruk-pikuk di jagat politik enggan beranjak dari media, dan kasus kopi sianida kelihatannya lebih menarik disimak. Untunglah, teman-teman aktivis Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) masih memiliki kepedulian dan mengingatkan saya untuk menulis, agar persoalan pentingnya artefak budaya ini juga turut mengisi ruang-ruang fikiran publik, dan menjadi memori kolektif bangsa kita.
Dwi Woro Retno Mastuti, dosen Prodi Sastra Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), yang dalam beberapa tahun terakhir mengkaji naskah itu, heran dan masygul dengan raibnya naskah “pusaka” itu. Baginya, naskah Jawa-Tiongkok yang keseluruhannya berjumlah 118 buah dan tersebar di berbagai koleksi dalam dan luar negeri itu sangat penting dalam konteks kebinekaan bangsa ini. Sebab, naskah dan isinya menggambarkan pergumulan komunitas etnisitas Tiongkok di abad ke-19 untuk menjadi Jawa di satu sisi dengan tetap memunculkan identitas etnisitas asalnya di sisi lain.
Nama-nama legenda Sam Kok dan Sik Jin Kwi, yang dikisahkan dalam naskah tersebut, bahkan ditulis oleh pengarangnya menggunakan aksara swara dan aksara rekan sehingga jejak etnisitas Tiongkok-nya masih sangat kuat (Mastuti 2011, Menjadi Jawa: Naskah Cina-Jawa).

Berita di Kompas itu memang kecil, tetapi masalahnya sesungguhnya tidak sesederhana itu! Kasus hilangnya artefak budaya bersejarah dari museum di Solo, khususnya, bukan kali ini saja terjadi. Pada 2008, publik juga dibuat heboh ketika puluhan naskah kuno dan arca koleksi Museum Radya Pustaka berpindah tangan secara ilegal, sampai-sampai Joko Widodo, Wali Kota Solo saat itu, turun tangan membentuk tim investigasi. Ini menunjukkan ada yang tak beres dengan manajemen preservasi naskah kuno di sejumlah museum dan perpustakaan kita. Belum lagi kita punya masalah jual beli naskah dan akuisisi naskah koleksi pribadi di masyarakat oleh tangan-tangan asing meski UU Cagar Budaya No. 11 tahun 2010 telah tegas melarangnya!


Arti naskah kuno
Indonesia bak negeri tak tahu diuntung. Negara sering absen dalam hal raibnya sang naskah! Padahal, tak semua bangsa mewarisi puluhan ribu naskah kuno tulisan tangan! Selain mencerminkan jati diri bangsa berperadaban tinggi, keragaman aksara dan bahasa dalam naskah kuno sesungguhnya juga meneguhkan kebinekaan masyarakat Nusantara sejak ratusan tahun lalu.
Tidak kurang dari 20 kelompok bahasa yang kita warisi! Aceh, Arab, Bali, Batak, Belanda, Bugis-Makassar-Mandar, Jawa & Jawa Kuna, Madura, Melayu, Minangkabau, Sanskerta, Sasak, Sunda & Sunda Kuna, Ternate, Wolio, Bahasa-bahasa Indonesia Timur, Bahasa-bahasa Kalimantan, serta Bahasa-bahasa Sumatra Selatan (Chambert-loir dan Fathurahman 1999, Khazanah Naskah). Negara manakah kiranya yang bisa menandingi keragamanan bahasa dan aksara kita?
Naskah kuno, yang banyak ditelantarkan di rumahnya sendiri, adalah bukti kebesaran peradaban nenek moyang kita yang telah berkemampuan merekam, memproduksi, menyimpan, serta mengolah informasi melalui aksara setara dengan peradaban besar dunia semisal Mesir, Tiongkok, India, Arab, Romawi, dan Persia. Dengan bekal peradaban aksara dan bahasa itulah, bangsa-bangsa di atas berhasil memengaruhi dunia, termasuk Nusantara.
Bangsa-bangsa Eropa sudah lama mengagumi keragaman aksara dan bahasa Nusantara, sampai-sampai dalam rangkaian Pekan Raya Buku Frankfurt 2015 di Jerman pun, Universitätsbibliothek di Berlin secara khusus menggelar pameran Schrift und Sprache, yang digagas dan disiapkan oleh Thoralf Hanstein, kurator naskah-naskah Islam Arab, Asia, dan Turki yang fasih berbahasa Indonesia. Beragam naskah kuno Nusantara dipamerkan, dialihmediakan, serta didiskusikan. Bukan hanya aksara dan bahasanya, bahkan cara pembuatan kertas daluwang sebagai media tulis tradisionalnya pun dipertontonkan dengan mengundang Tedi Permadi, sang ahli dari Unipersitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Sarjana-sarjana Eropa juga sudah lama membangun kesarjanaan mereka dengan mengandalkan naskah-naskah kuno Indonesia. Dalam konteks Jawa, M. C. Ricklefs adalah salah satu contoh sarjana yang seperti tak pernah kehabisan amunisi merekonstruksi sejarah Jawa berbasis naskah. Dalam kondisi kesehatan yang kini tidak terlalu prima pun, Pak Merle, begitu ia disapa, bahkan sedang mempersiapkan penulisan sejarah biografi Mangkunegara I atau yang dikenal sebagai Samber Nyawa, berdasar pada Serat Babad Pakunegaran, sebuah naskah Jawa yang tersimpan di The British Library (Add MS 12318) (Ricklefs 2015). Pekerjaan yang seharusnya juga dilakukan oleh sarjana-sarjana pribumi sendiri.
Edwin Wieringa, Willem van der Molen, Nancy Florida, dan Dick van der Meij adalah beberapa sarjana asing lain yang patut disebut dalam konteks kajian naskah-naskah Jawa, dan yang sebagiannya hingga kini masih dianggap lebih produktif menghasilkan karya-karya ilmiah berbasis naskah Jawa ketimbang para filologis Indonesia sendiri.
Tanpa salah urus saja, naskah kuno secara perlahan tapi pasti terancam punah mengingat daya tahan alas yang digunakan memiliki keterbatasan, apalagi ditambah kelembapan udara di iklim tropis, gigitan ngengat dan serangga, serta ancaman kemungkinan musnah akibat terjadinya bencana alam seperti gempa dan tsunami. Karena itu, salah urus pengelolaan museum atau perpustakaan seperti yang terjadi di Museum Reksopustoko Mangkunegaran atau Museum Radya Pustaka itu dipastikan akan mempercepat hilangnya penggalan artefak budaya yang sesungguhnya menyimpan informasi tentang siapa jatidiri kita.

Revitalisasi museum
Meskipun mewarisi aneka ragam artefak budaya bersejarah yang menegaskan identitas kita sebagai sebuah bangsa berperadaban besar, dibandingkan negara-negara lain, kita masih relatif ketinggalan dalam hal seni dan passion mengelola museum.
Kebanyakan museum di Indonesia, termasuk museum penyimpan naskah kuno, masih bersifat elitis, berjarak dengan masyarakat umum, hanya akrab dengan kalangan terdidik saja, dan ditunggui staf ala kadarnya.
Adapun museum-museum di sejumlah negara maju kini sudah bertransformasi tidak saja eksis dengan fungsi tradisionalnya sebagai tempat mengoleksi, merawat, dan memamerkan benda-benda bersejarah, melainkan juga sebagai destinasi wisata dan hiburan bagi pengunjung umum. Staf yang dipekerjakan pun adalah para kurator terdidik dan profesional. Sebagian mereka adalah lulusan universitas-universitas terkemuka di Eropa dan Amerika di bidang Museumologi.
Visualisasi artefak di museum negara maju juga sinergis dengan perkembangan mutakhir teknologi komunikasi dan informasi sehingga menjadi atraktif dan menyenangkan bagi anak-anak sekalipun dengan tetap merawat tujuan utamanya untuk edukasi.
Hilangnya naskah kuno Jawa-Tiongkok koleksi Museum Reksopustoko Mangkunegaran, dan mungkin juga naskah-naskah dalam koleksi lain yang tidak terekspos, hanya salah satu akibat saja dari potret pengelolaan museum kita yang belum tercerahkan. Semoga ini menjadi momentum bagi kita untuk melakukan transformasi pengelolaan museum secara profesional, visioner, transparan, dan akuntabel sehingga melahirkan museum yang mendidik dan menyenangkan.

OMAN FATHURAHMAN

PENELITI SENIOR PPIM; GURU BESAR FILOLOGI DI FAH UIN JAKARTA; KETUA UMUM MASYARAKAT PERNASKAHAN NUSANTARA


Print This Page

Museum Islam Betawi

October 26, 2015

Artikel terbit di Koran Republika, Sabtu 24 Oktober 2015.

==========
Menyisir katalog, dan kemudian menyimak halaman demi halaman beberapa manuskrip yang terkait dengan sejarah Islam di Batavia (kini Jakarta) di Perpustakaan Universitas Leiden, menggiring saya pada imajinasi tentang Islam Betawi masa lalu. Kertas kecil putih bertuliskan Legaat Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje yang nempel pada halaman sampul sejumlah manuskrip yang kami baca menandakan peran penting Penasehat urusan-urusan keislaman bagi Pemerintah Kolonial Belanda pada masanya itu, dalam pengumpulan naskah-naskah di Indonesia.
Dalam tiga hari di akhir September, saya bersama K.H. A Shodri HM, Pimpinan Jakarta Islamic Center (JIC), Ahmad Juhandi, Haerullah, Abdul Razak Said dan teman-teman peneliti lain dari JIC menyambangi Perpustakaan yang menyimpan koleksi manuskrip Indonesia terbesar di dunia tersebut, untuk melakukan riset awal terkait rencana JIC mengembangkan Museum Islam Betawi. Selain Perpustakaan, Museum Volkenkunde, yang menata artefak-artefak budaya asal berbagai Negara termasuk Indonesia, juga menjadi tempat tujuan yang ternyata memberikan banyak inspirasi bagaimana mengelola dan memvisualisasikan potensi sejarah dan kebudayaan sebuah masyarakat.

Kurator manuskrip dan buku langka Asia Tenggara Perpustakaan Leiden, Doris Jedamski, menceritakan bahwa selain manuskrip, dalam special collections khususnya, juga tersimpan banyak arsip, foto-foto, dan dokumen lain terkait sejarah Islam Betawi. Doris memberikan komitmennya untuk bekerja sama memfasilitasi semua material yang dibutuhkan untuk Museum Islam Betawi.

Terkait sumber-sumber sejarah Islam Indonesia, termasuk sejarah dan budaya Islam Betawi, Leiden memang surga! Beberapa bulan lalu, Perpustakaan Leiden bahkan menggelar pameran figur beserta karya-karya seorang ulama Hadhrami kelahiran Pekojan, Sayyid Uthman (1822-1913). Materi Pameran yang diinisiasi oleh peneliti di Leiden Institute for Area Studies, Nico Kaptein, tersebut kini dapat dinikmati secara daring melalui situs Perpustakaan Universitas Leiden sendiri.
Nico, yang pada 2014 lalu menerbitkan buku Islam, Colonialism, and the Modern Age in the Netherlands East Indies; A Biography of Sayyid ‘Uthman (1822-1914), ini sejak tahun 1990an mengkaji dokumen-dokumen terkait Sayyid Uthman, ulama Arab-Betawi yang sangat berpengaruh, sekaligus kontroversial, pada masanya. Nico menunjukkan dengan sangat baik bagaimana ulama Betawi yang tumbuh di lingkungan keluarga Arab di Pekojan ini telah turut memberikan kontribusi terhadap perkembangan sejarah Islam Indonesia. Di antara sumber rujukan Nico adalah Suluh Zaman dan Qamar al-Zaman, dua manuskrip yang ditulis oleh kalangan internal keluarga Sayyid Uthman, dan kini tersimpan di Perpustakaan Leiden.
Ulama Betawi dalam Manuskrip
Selain dokumen-dokumen tentang Sayyid Uthman yang diakses oleh Nico, sejumlah manuskrip warisan Snouck Hurgronje di Leiden juga mengabadikan nama-nama tempat dan ulama setempat yang lebih awal, sekitar abad ke-19. Mereka pernah mengisi lembaran sejarah Islam di Betawi, khususnya yang terkait tarekat Syatariyah.
Naskah berbahasa Melayu beraksara Jawi dengan kode Or.7274 (Mal. c1909) misalnya, menyebut Anak Tung dan Baba Jainan, dua ulama Betawi di Kampung Pasar Senen Sungai Baru, yang silsilah intelektualnya terhubungkan kepada Kyai Santari Hurip dari Banten, serta ulama-ulama dari Karang Pamijahan Jawa Barat semisal Kyai Mas Alida Muhammad, Kyai Mas Nida Muhammad Muhyiddin, dan yang paling kesohor, Syekh Abdul Muhyi Pamijahan. Nama terakhir adalah murid utama Syekh Abdurrauf Singkel (w. 1693), seorang ulama moderat di istana Kesultanan Aceh sejak masa Sultanah Safiyatuddin.

Data ini melengkapi informasi dalam manuskrip lain koleksi the British Library, MSS.Jav.50, yang menyebut Baba Ibrahim dari Kampung Tinggi, atau Encik Salihin dan Khatib Sa’id yang asal-usulnya diidentifikasi sebagai Batawiyah negerinya, Mataraman [sekarang Matraman] kampungnya. Dua nama terakhir adalah murid dari seseorang yang disebut dalam manuskrip tersebut sebagai “…Tuan Haji Nur Ahmad Tegil negerinya, Kepatihan kampungnya…”, yang mungkin berarti dari Tegal Jawa Tengah. Jadi ulama Betawi ini mewarisi tradisi Melayu, Sunda, dan Jawa sekaligus karena ulama Tegal itu ujung-ujungnya juga belajar dari guru-guru tarekat di Pamijahan.

Bagi sarjana-sarjana Barat, manuskrip-manuskrip yang disalin sendiri oleh para sastrawan Betawi itu telah ditempatkan sesuai ‘maqamnya’ sebagai sumber penting sejarah Islam Betawi, seperti yang dilakukan Michael Laffan (2011: 36-37) ketika menulis buku the Makings of Indonesian Islam. Bahkan untuk membacanya di Perpustakaan Leiden pun, kami diwajibkan menggunakan bantal sebagai alas, agar lembaran-lembaran yang sudah rapuh itu tidak bertambah rusak.
Mempertimbangkan beberapa potensi di atas, maka pemikiran untuk menghadirkan Museum Islam Betawi di Kampung Si Pitung sendiri, patut didukung serius oleh semua pihak. Apalagi, artefak budaya Betawi yang terkait Islam sangat banyak, lebih dari sekedar manuskrip dan dokumen belaka.
Membangun Distingsi
Saat beberapa waktu lalu ngopi bersama Kurator manuskrip Asia dan Asia Tenggara the British Library, Annabel Teh Gallop, saya sampaikan rencana JIC membangun Museum Islam Betawi ini. Pertanyaan pertama yang diajukan Annabel adalah untuk siapa Museum itu ditujukan? Material apa yang membedakan Museum ini dari koleksi lain sehingga dapat menarik pengunjung?
Pertanyaan-pertanyaan Annabel seperti itu penting dijawab, tapi sekaligus juga tantangan berat untuk direalisasikan. Kita percaya bahwa orang yang datang ke Museum niscaya berharap melihat benda asli yang mampu membawa imajinasinya ke masa lampau, bukan sekedar duplikasi! Padahal, Museum Islam Jakarta ini, lokasinya bahkan tidak terletak di tempat yang terkait sejarah Islam Betawi sendiri.
Di sela-sela istirahat membaca manuskrip, dosen sastra dan budaya Indonesia di Universitas Leiden, Suryadi, menyarankan agar rencana membangun Museum Islam Betawi ini disiapkan secara serius. Penulis buku Syair Lampung Karam (2010), yang menceritakan dahsyatnya letusan Krakatau ini, pun siap memfasilitasi pengadaan material museum yang tersedia di Leiden.
Oman Fathurahman

Guru Besar Filologi Fakultas Adab dan Humaniora, Peneliti Senior Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Print This Page

Belajar dari Birmingham

August 7, 2015
MS1572A of MIngana Collection
Versi pendek tulisan ini terbit di harian nasional Republika, Selasa 28 Juli 2015
—–
Uji radiokarbon atas dua lembar perkamen naskah M. 1572a yang berisi penggalan teks al-Quran koleksi Perpustakaan the University of Birmingham, telah menghentak dunia akademik Islam internasional atas kesimpulannya bahwa naskah berbahan kulit kambing tersebut berasal dari antara tahun 568 hingga 645 M, tidak jauh dari masa hidup Nabi Muhammad Saw (570-632 M).
‘Klaim’ usia naskah al-Quran Birmingham itu memang sulit dibantah karena dihasilkan dari sebuah langkah metodis saintifik yang tingkat akurasinya mencapai 95,4%. Ini berbeda dengan klaim-klaim yang sering berseliweran di kalangan masyarakat umum tentang kepemilikan sebuah naskah yang konon berusia ‘ratusan’ tahun, tanpa dilanjutkan dengan riset akademik untuk menguji kebenarannya.
Riset adalah kata kuncinya!

Berkat kajian manuskrip yang dilakukan oleh Alba Fedeli untuk disertasinya, kini kota Birmingham menjadi buah bibir dunia, kredit akademik juga diraih oleh kampus University of Birmingham karena hasil riset mahasiswanya dikutip, dan akan terus dikutip, oleh dunia akademik internasional, meski nanti mungkin ada peneliti lain yang ‘meruntuhkan’ tesisnya. Muslim warga Birmingham pun begitu sumringah, sampai-sampai Imam besar Masjid Agung Birmingham, Muhammad Afzal, pun tak kuasa menahan air mata kegembiraan dan harunya saat berkesempatan ‘menyapa’ langsung lembaran-lembaran kulit kambing yang mungkin pernah disentuh oleh sahabat Nabi lebih dari 1.370 tahun lalu tersebut.

Temuan ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi para sarjana pengkaji sejarah awal Islam, khususnya mazhab revisionis, yang kerap meragukan temuan-temuan sumber-sumber tertulis Muslim tradisional terkait sejarah Islam awal, termasuk di dalamnya sejarah mushaf al-Quran <!–[if supportFields]>ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : [ { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : [ { “dropping-particle” : “”, “family” : “Sirry”, “given” : “Mun\u2019im”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } ], “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : [ [ “2015” ] ] }, “publisher” : “Mizan”, “publisher-place” : “Bandung”, “title” : “Kontroversi Islam Awal; Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis”, “type” : “book” }, “uris” : [ “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=8bd5b551-22c3-4ccf-8115-addae60ce8a8&#8221; ] } ], “mendeley” : { “formattedCitation” : “Mun\u2019im Sirry, Kontroversi Islam Awal; Antara Mazhab Tradisionalis Dan Revisionis (Bandung: Mizan, 2015).”, “manualFormatting” : “(Mun’im Sirry 2015)”, “plainTextFormattedCitation” : “Mun\u2019im Sirry, Kontroversi Islam Awal; Antara Mazhab Tradisionalis Dan Revisionis (Bandung: Mizan, 2015).”, “previouslyFormattedCitation” : “Mun\u2019im Sirry, Kontroversi Islam Awal; Antara Mazhab Tradisionalis Dan Revisionis (Bandung: Mizan, 2015).” }, “properties” : { “noteIndex” : 0 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json&#8221; }<![endif]–>(Mun’im Sirry 2015)<!–[if supportFields]><![endif]–>. Mungkin, Alphonse Mingana  (1878-1937) sendiri, yang notabene berada di barisan revisionis, tidak menduga bahwa di antara naskah-naskah yang dikumpulkannya itu terdapat fragmen al-Quran setua itu.
Memang, hasil riset itu tentu masih menyimpan sejumlah pertanyaan karena tampaknya baru mengungkap aspek kodikologis dari alas naskahnya. Kita, misalnya, belum menjumpai analisis tekstologis dan paleografis terkait usia teksnya, atau uji karbon atas tintanya. Kita masih bias bertanya, apakah tulisan pada masa awal sahabat itu memang sudah sedemikian rapi? Bukankah sangat mungkin bahwa alas naskahnya berasal dari zaman Nabi, tapi teksnya baru ditulis pada masa tabi’in atau tabi’ tabi’in? Akan lebih mencengangkan jika dapat diketahui, siapa penulis fragmen al-Quran tersebut?
Dalam konteks naskah Nusantara, uji karbon untuk mengetahui usia sebuah naskah juga pernah dilakukan oleh peneliti bahasa, sastra, dan budaya Batak asal Jerman, Uli Kozok, saat ia meneliti naskah Undang-undang Tanjung Tanah berbahan daluwang asal Kerinci, Sumatera Selatan <!–[if supportFields]>ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : [ { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : [ { “dropping-particle” : “”, “family” : “Kozok”, “given” : “Ulrich”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } ], “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : [ [ “2004” ] ] }, “publisher” : “St Catharine’s College and the University Press”, “publisher-place” : “Cambridge”, “title” : “The Tanjung Tanah code of law: The oldest extant Malay manuscript”, “type” : “book” }, “uris” : [ “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=f650fc45-7bed-4510-ad46-ed7e5f831630&#8221; ] } ], “mendeley” : { “formattedCitation” : “Ulrich Kozok, The Tanjung Tanah Code of Law: The Oldest Extant Malay Manuscript (Cambridge: St Catharine\u2019s College and the University Press, 2004).”, “manualFormatting” : “(Kozok 2004)”, “plainTextFormattedCitation” : “Ulrich Kozok, The Tanjung Tanah Code of Law: The Oldest Extant Malay Manuscript (Cambridge: St Catharine\u2019s College and the University Press, 2004).”, “previouslyFormattedCitation” : “Ulrich Kozok, The Tanjung Tanah Code of Law: The Oldest Extant Malay Manuscript (Cambridge: St Catharine\u2019s College and the University Press, 2004).” }, “properties” : { “noteIndex” : 0 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json&#8221; }<![endif]–>(Kozok 2004)<!–[if supportFields]><![endif]–>. Uji radiokarbon di Wellington Selandia yang dilakukannya menunjukkan bahwa naskah tersebut berasal dari masa kejayaan Adityawarman sebelum tahun 1377 M, dan hingga kini dianggap sebagai naskah Melayu tertua zaman pra-Islam.
Sekali lagi, riset yang baik adalah kata kunci untuk memberikan kontribusi bagi dunia keilmuan, dan merekonstruksi puing-puing peradaban sebuah bangsa.
Temuan fragmen naskah Quran tertua di Birmingham pun sesungguhnya ‘tidak baru’, dan bukan satu-satunya yang diyakini berasal dari abad pertama Hijriah. Kurator the British Library, Annabel Teh Gallop, menjelaskan bahwa ada puluhan fragmen naskah al-Quran lainnya, dengan tulisan serupa dan bahan serupa, yang tersimpan dalam berbagai perpustakaan di seluruh dunia, termasuk di the British Library, di Bibliotheque national Paris, di Tubingen Jerman, dan di Sanaa Yemen.
Bahkan, dua folio naskah al-Quran Birmingham itu pun diduga kuat bagian ‘tercecer’ dari 16 folio naskah yang tersimpan di Paris dengan kode BnF Arabe 328(c) <!–[if supportFields]>ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : [ { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : [ { “dropping-particle” : “”, “family” : “D\u00e9roche”, “given” : “Fran\u00e7ois”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } ], “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : [ [ “2009” ] ] }, “publisher” : “Brill Publishers”, “publisher-place” : “Leiden”, “title” : “La transmission \u00e9crite du Coran dans les d\u00e9buts de l’islam: le codex Parisino-petropolitanus”, “type” : “book” }, “uris” : [ “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=52859fd3-9970-4c05-a5ad-c50adb7dfcb8&#8221; ] } ], “mendeley” : { “formattedCitation” : “Fran\u00e7ois D\u00e9roche, La Transmission \u00c9crite Du Coran Dans Les D\u00e9buts de L\u2019islam: Le Codex Parisino-Petropolitanus (Leiden: Brill Publishers, 2009).”, “manualFormatting” : “(D\u00e9roche 2009)”, “plainTextFormattedCitation” : “Fran\u00e7ois D\u00e9roche, La Transmission \u00c9crite Du Coran Dans Les D\u00e9buts de L\u2019islam: Le Codex Parisino-Petropolitanus (Leiden: Brill Publishers, 2009).”, “previouslyFormattedCitation” : “Fran\u00e7ois D\u00e9roche, La Transmission \u00c9crite Du Coran Dans Les D\u00e9buts de L\u2019islam: Le Codex Parisino-Petropolitanus (Leiden: Brill Publishers, 2009).” }, “properties” : { “noteIndex” : 0 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json&#8221; }<![endif]–>(Déroche 2009)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
Naskah-naskah Islam: Dari Timur ke Barat
Sejarah mencatat bahwa Islam telah melahirkan dan mewariskan peradaban penting bagi umat manusia. Salah satu bentuk warisan peradaban Islam itu adalah naskah-naskah tulisan tangan (manuscripts). Selain tersimpan di wilayah-wilayah asalnya di dunia Arab, banyak naskah dari dunia Islam telah berpindah tangan ke dunia Barat.
Naskah-naskah dalam Mingana Collection di University of Birmingham, tempat ditemukannya fragmen al-Quran di atas, adalah salah satu contohnya. Lebih dari 3000 naskah dan fragmen dalam koleksi ini adalah jasa seorang teolog, sejarawan, dan orientalis Assria, Alphonse Mingana yang saya sebut di atas. Ia mengumpulkan naskah-naskah tersebut dari Syria, Lebanon, Iraq, Mesir, Kurdistan, dan wilayah-wilayah Arab lainnya sejak 1924 hingga 1929.
Mingana melakukan ekspedisi ke Timur Tengah, dan kemudian mengakuisisi naskah-naskah tersebut, atas sponsor dari Dr. Edward Cadbury (1873-1948), pemilik raksasa perusahaan Coklat di Bournville, Birmingham. Tak heran, jika kini salah satu fragmen teks al-Quran tertua yang menghebohkan dunia tersebut dijumpai di Kota yang dihuni oleh lebih dari 21% warga Muslim di Inggris tersebut.
Mingana bukan sekedar seorang kolektor naskah. Ia juga sekaligus bekerja menyusun katalog dari naskah-naskah yang dikumpulkannya tersebut. Katalog pertama (1933) berisi deskripsi 606 naskah berbahasa Syria, disusul kemudian dengan katalog berikutnya (1936) yang berisi 120 naskah Arab serta 16 naskah Syria. Terakhir, ia menulis katalog yang berisi deskripsi 152 naskah Arab dan 40 naskah Syria, yang baru dapat terbit pada 1939, dua tahun setelah Mingana meninggal dunia.
Contoh lain adalah 488 naskah Arab, Persia, dan Turki koleksi Perpustakaan Universitas Leipzig di Jerman, yang berasal dari Perpustakaan keluarga ‘Refaiya’ di Damaskus. Pada tahun 1853, semua koleksi naskah ini diakuisisi oleh Universitas Leipzig melalui seorang sarjana orientalis Jerman yang saat itu menjabat sebagai Konsul di Damaskus, Syria, Dr. Johann Gottfried Wetzsein (1815-1905). Kini, semua naskah tersebut terawat dengan baik, dan seluruh halamannya dapat diakses secara online.
Naskah-naskah Islam asal Nusantara tak ada bedanya. Faktor sejarah antara lain menjadi sebab berpindahnya ribuan naskah Nusantara, sebagian besar tentang Islam, ke perpustakaan-perpustakaan di Eropa, seperti Perpustakaan Universitas Leiden dan the British Library. Syukurlah, profesionalisme perpustakaan-perpustakaan di Eropa tersebut dalam hal preservasi naskah telah memberikan kontribusi signifikan pada upaya pelestariannya hingga masih dapat diakses oleh khalayak luas, termasuk oleh kita, ‘ahli warisnya’ sendiri.
Perpustakaan Leiden dan the British Library kini bahkan sudah membuka pintu lebar-lebar bagi para peneliti untuk mendokumentasikan sendiri naskah-naskah koleksi mereka untuk keperluan riset, sehingga aksesnya menjadi sangat mudah. Bahkan the British Library menginisiasi Endangered Archive Programme, sebuah proyek yang mengonlinekan ribuan naskah digital, hasil kerjasama lembaga tersebut dengan para peneliti dunia, termasuk filologis-filologis asal Indonesia.
Kembali ke fragmen naskah al-Quran Birmngham, saya meyakini sepenuhnya bahwa temuan, yang disebut oleh kurator naskah Arab di the British Library, Dr. Muhammad Isa Waley, sebagai exciting discovery ini tidak lahir secara tiba-tiba. Ia adalah buah dari tradisi riset yang baik di kampus, infrastruktur yang paripurna, kapasitas peneliti yang mumpuni, dan political will yang berpihak dari pemangku kebijakan.
Dari segi sumberdaya, Indonesia adalah salah satu negara pemilik khazanah naskah terbesar di dunia, dengan tidak kurang dari 20 kelompok bahasa dan ratusan aksara <!–[if supportFields]>ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : [ { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : [ { “dropping-particle” : “”, “family” : “Chambert-Loir”, “given” : “Henri”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Fathurahman”, “given” : “Oman”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } ], “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : [ [ “1999” ] ] }, “publisher” : “Yayasan Obor-EFEO”, “publisher-place” : “Jakarta”, “title” : “Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah Indonesia se-Dunia”, “type” : “book” }, “uris” : [ “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=7cc26dda-92ab-46dd-8d84-242686393795&#8221; ] } ], “mendeley” : { “formattedCitation” : “Henri Chambert-Loir and Oman Fathurahman, Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah Indonesia Se-Dunia (Jakarta: Yayasan Obor-EFEO, 1999).”, “manualFormatting” : “(Chambert-Loir and Fathurahman 1999)”, “plainTextFormattedCitation” : “Henri Chambert-Loir and Oman Fathurahman, Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah Indonesia Se-Dunia (Jakarta: Yayasan Obor-EFEO, 1999).”, “previouslyFormattedCitation” : “Henri Chambert-Loir and Oman Fathurahman, Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah Indonesia Se-Dunia (Jakarta: Yayasan Obor-EFEO, 1999).” }, “properties” : { “noteIndex” : 0 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json&#8221; }<![endif]–>(Chambert-Loir and Fathurahman 1999)<!–[if supportFields]><![endif]–>. Selain koleksi yang sudah tersimpan di Perpustakaan Nasional dan museum-museum di daerah, ribuan naskah diyakini masih tersimpan sebagai properti pribadi yang dianggap keramat di tangan masyarakat.
Masalahnya, kita belum memiliki strategi kebudayaan yang jelas dan terukur untuk mengelola semua sumber daya yang kita miliki itu, agar memberikan kontribusi yang signifikan bagi kemajuan peradaban Indonesia sendiri. Semoga ‘pengalaman Birmingham’ memberikan pelajaran buat kita!
Unduh versi PDF artikel di sini.

Print This Page

Manuskrip Digital untuk Riset

June 26, 2015

Saya agak lama merenung menyiapkan materi presentasi ini untuk memenuhi undangan teman-teman di Balitbang Agama Jakarta mengisi salah satu sesi dalam workshop tentang “Penulisan Karya Tulis Ilmiah Berbasis Teks-teks Keagamaan”.

Mengapa? Bukan karena saya kehabisan ide tentang topik tersebut, bukan juga karena saya kesulitan mengumpulkan materinya, melainkan karena saya sadar betul bahwa peserta workshop yang hadir adalah mereka-mereka yang niscaya sudah berulang kali bertemu dan mendengarkan gagasan-gagasan saya terkait pentingnya pendekatan filologi untuk kajian teks-teks keagamaan (dalam hal ini teks-teks Islam).

Saya tidak ingin hanya mengulang materi lama! Saya mencoba memikirkan sebuah kontribusi yang relatif segar, tidak semata mengulang-ulang materi lama yang mungkin sudah sangat difahami dan bahkan sudah dipraktikkan. Tapi itu ternyata tidak mudah, apalagi menyangkut hal-hal yang sifatnya teoritis. Istilah kata: memang sudah dari sananya begitu!

Karenanya, dalam presentasi ini, pertama saya hanya ingin memperbaharui informasi terkait potensi teks-teks Islam Nusantara yang tersedia sebagai bahan penelitian, terutama terkait dengan semakin berkembangnya trend perpustakaan digital online; kedua, saya ingin mengajak menggali kembali teori dan pendekatan filologi yang relevan digunakan dalam penelitian-penelitian teks keagamaan. Untuk hal kedua ini, beberapa bagian dari buku saya rasanya masih relevan untuk dirujuk; dan ketiga saya akan sedikit membincang pentingnya penguatan penerbitan jurnal ilmiah berbasis teks-teks hasil penelitian filologis.

Jika tertarik membaca lebih lanjut diskusi di atas, silahkan unduh working paper ini.

Sabda Raja: Antara Wahyu Leluhur dan Tradisi Leluhur

May 20, 2015

Versi ringkas artikel ini terbit di Koran Republika, Selasa 12 Mei 2015.

———-
Untuk pertama kalinya sejak naik tahta 7 Maret 1989 silam, pada Kamis (30/4) Sultan Hamengkubuwono X mengeluarkan Sabda Raja yang berisi lima butir titah: penggantian kata Buwono menjadi Bawono, penanggalan gelar Khalifatullah, penggantian kata Sedasa menjadi Sepuluh’ mengubah perjanjian pendiri Mataram Ki Ageng Giring dengan Ki Ageng Pemanahan, dan menyempurnakan keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek dengan keris Kanjeng Kyai Ageng Joko Piturun.
Berdasar tradisi Kraton, sabda Raja tentu saja adalah sabda pandita ratu yang tiada lain harus dipatuhi, bukan untuk diperdebatkan. Apalagi, Sultan Hamengkub[a]wono X menegaskan bahwa Sabda Raja ini tak lain adalah ‘wahyu leluhur’ melalui dirinya. Akan tetapi, dari perspektif sejarah kesultanan di Nusantara, penanggalan gelar khalifatullah, khususnya, sejatinya bukan persoalan sederhana.
Khalifatullah: Warisan Ideologi dan Tradisi
Sebutan khalifatullah (wakil Tuhan) adalah ‘setali tiga uang’ dengan gelar zillullah fil alam atau zillullah fil ardyang berarti bayang-bayang Tuhan di bumi, dan melekat pada gelar para Sultan di kerajaan Melayu-Islam sejak abad ke-14 (Milner 1981: 52). Jadi, oleh rakyatnya, Sultan selalu diyakini sebagai wakil Tuhan di muka bumi yang patut dan wajib dipatuhi segala titahnya.
Sultan-sultan di Jawa tak terkecuali, karena gelar-gelar tersebut bukan semata ‘cindera mata’ simbolis dari otoritas tertinggi kekhalifahan semacam Turki Utsmani pada masanya, melainkan lebih dari itu mencerminkan ideologi ajaran Manunggaling Kawula Gusti  (menyatunya hamba dengan Tuhan), yang dalam doktrin mistis Islam dikenal sebagai wahdatul wujud (kesatuan wujud).
Inti doktrin itu mengajarkan bahwa secara spiritual manusia dapat naik merapat ke maqom Tuhannya (taraqqi), begitupun Tuhan dapat turun menjelma pada makhluk-Nya (tajalli). Oleh raja-raja kesultanan Islam di Nusantara, ajaran ini lalu diserap dan diterjemahkan sebagai keharusan rakyat patuh pada Rajanya, dan keniscayaan Raja menyatu dengan rakyatnya, atau bahasa populernya: merakyat!
Naskah-naskah kuno asal Kraton Yogyakarta sendiri menjadi bukti kuat bahwa pada abad ke-18 khususnya, doktrin Manunggaling Kawula Gusti  yang menjadi inti ajaran salah satu ordo sufi paling berpengaruh saat itu, yakni tarekat Syatariyah, telah menyatu dengan elit Kraton.
Naskah Jav. 69 koleksi the British Library misalnya, dengan gamblang menegaskan bahwa salah seorang murid Syatariyah dari lingkaran elit Kraton Yogyakarta adalah Kangjeng Ratu Kadospaten kang palenggah ing Negara Yogyakarta Adiningrat nagarane, lang ing Sokawati Kamajan Pawong sanake. Kangjeng Ratu yang dimaksud bukan sembarang elit Kraton, melainkan tiada lain adalah salah seorang perempuan terpenting di Jawa, yakni istri Permaisuri Pangeran Mangkubumi, Raja pertama Kesultanan Yogyakarta, dan ibu bagi Hamengkubuwana II.
Otoritas dan otentisitas naskah berbahasa Jawa Pegon ini pun tidak perlu diragukan karena ia adalah salah satu dari 75 naskah yang pada Juni 1812 dirampas oleh Raffles dari dalam Kraton Yogyakarta, dan kini tersimpan dengan baik dalam koleksi Colin Mackenzie di Perpustakaan yang terletak di London tersebut.
Naskah lain dalam koleksi sama (Jav. 83) juga menyebut sejumlah elit Kraton Yogyakarta yang terlibat aktif dalam jaringan sufi penganut ajaran Manunggaling Kawula Gusti, dan yang silsilahnya terhubungkan hingga ke Syekh Abdul Muhyi Pamijahan dan Syekh Abdurrauf Singkel Aceh, yakni Kanjeng Raden Ayu Kilen ingkang garwa Kanjeng Sinuhun Sultan Pakubuwana ‘Abdurrahman Sayyid Panatagama Senapati Alaga.
Meski bergelar Kanjeng Sinuhun Sultan Pakubuwana, suami Kanjeng Raden Ayu Kilen yang dimaksud adalah Sultan Hamengkubuwana II. Menurut M. C. Ricklefs (1974: 78-9), selain soal bahasa, tensi politik yang tinggi pasca pembagian kekuasaan Mataram menjadi Yogyakarta dan Surakarta saat itu menyebabkan Raja Yogyakarta sering menggunakan gelar Raja Surakarta ketimbang gelarnya sendiri sebagai Senapati Ing Ngalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Kalipatulah.
Masih dalam naskah Jav. 83, diketahui bahwa mursyid Kanjeng Raden Ayu Kilen adalah Kanjeng Pangeran Pakuningrat ing Ngayogyakarta Adiningrat, seorang Pangeran elit Kraton Yogyakarta dari jalur silsilah Mataram lama.
Dengan begitu, tentu bukan tanpa alasan jika sejak awal para leluhur elit Kraton Yogyakarta mengadopsi doktrin yang bersumber dari mistisisme Islam itu, serta melekatkan ‘Khalifah’ pada  gelar kehormatan Rajanya. Bukan sekedar simbolik, ini ideologi, karena Raja butuh legitimasi atas kekuasaannya, dan Raja butuh pengakuan serta kesetiaan dari rakyatnya.
Khalifatullah atau Zillullah fil Alam untuk Sultan[ah]?
Menyusul Sabda pertama, pada Sabtu (2/5), Sultan mengeluarkan Dhawuh Raja berisi penggantian nama GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi, yang memunculkan dugaan bahwa putri sulung Raja ini akan menjadi Putri Mahkota. Jika ya, patutkah gelar Khalifatullahuntuk Raja perempuan?
Meski belum pernah terjadi dalam sejarah Kraton Yogyakarta, Raja perempuan adalah hal lumrah dalam sejarah dan tradisi kesultanan Islam Nusantara. Aceh adalah contoh terbaik terkait hal ini. Sejak 1641 hingga wafatnya pada 1675, putri Sultan Iskandar Muda, yakni Sultanah Safiatuddin, bertahta di Kesultanan Islam Aceh Darussalam dengan memangku gelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillullah fl-’Alam binti al-Marhum. Bahkan, tiga pengganti Sultanah berikutnya juga adalah perempuan.
Saat dipimpin oleh Sultanah Safiatuddin, Kesultanan Aceh Darussalam mencapai masa keemasannya, disokong oleh Syekh Abdurrauf Singkel, yang trah keulamaannya diwarisi oleh sultan-sultan dan elit di Jawa melalui tarekat Syatariyah.
Dalam konsep tasawuf yang diadopsi oleh kraton-kraton Islam Nusantara, manusia memang dipandang sama, laki-laki maupun perempuan, sama-sama citra Tuhan. Jika dapat mencapai derajat tertentu, keduanya dapat menjadi insan kamil (manusia sempurna), dan menjadi wakil Tuhan di muka bumi (khalifatullah atau zillullah fil alam).
Saya tentu tidak ingin masuk pada asumsi bahwa Sabda Raja ini terkait kemungkinan GKR Mangkubumi menjadi Putri Mahkota dan Sultan[ah] Kraton Yogyakarta berikutnya. Seperti yang disampaikan Sang Sultan sendiri, ‘wahyu’ yang turun baru sebatas mengganti nama putrinya itu, dan ia hanya sebatas juru bicara.
Yang jelas, pasca Sabda dan Dhawuh Raja, kini Kraton Yogyakarta menghadapi babak dan pilihan baru: antara mempertahankan tradisi leluhur atau mengikuti wahyu leluhur. Penyelesaian dengan penuh kebijaksanaan adalah hal yang perlu dikedepankan, agar tidak terulang sejarah Mataram lama yang penuh dengan intrik dan perseteruan. Kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Yogyakarta, dan untuk kita semua, Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Print This Page