Kurikulum Sejarah dan Naskah Kuno

May 7, 2014

Artikel ini terbit di Rubrik Opini, KOMPAS, 7 Mei 2014.
—–
Dua artikel di koran Kompas terkait Penulisan Sejarah Nasional dan Kurikulum Pendidikan yang ditulis oleh Budi Darma (24/4/2014) dan L Wilardjo (30/4/2014) patut kita respon dengan serius. Budi Darma menekankan pentingnya penulisan sejarah berbasis penelitian, dan L Wilardjo menimpali perlu masuknya sejarah nasional berbasis penelitian itu dalam kurikulum pendidikan kita.

Sejarah adalah salah satu rumpun ilmu Humaniora. Berbeda dengan ilmu eksakta atau sains yang lebih bersifat futuristik, sumber pengetahuan ilmu Humaniora harus merujuk ke belakang dan lebih banyak mengakar sedalam-dalamnya pada budaya dan karsa yang dihasilkan oleh peradaban manusia itu sendiri.

Semakin jauh sumber primer dirujuk, semakin kokoh pula asumsi-asumsi yang dibangun. Persis seorang pemanah, semakin kencang ia menarik busur ke belakang, semakin kuat sang anak panah menancap di sasaran.

Jelas bahwa sejarah harus ditulis berdasar hasil penelitian objektif, dan jelas bahwa sejarah nasional harus masuk dalam kurikulum lembaga pendidikan dasar dan menengah kita. Tapi juga harus digarisbawahi pentingnya “memaksakan” ke dalam kurikulum tersebut masuknya aneka pengetahuan dan kearifan lokal yang telah lahir dari rahim peradaban manusia Indonesia sendiri selama berabad-abad.

Indonesia adalah salah satu negara pemilik naskah kuno (manuscript) terbesar di dunia, dengan tidak kurang dari 20 ragam bahasa lokal yang dipakai untuk menulisnya. Naskah kuno menjadi sumber primer yang mengandung sejarah kehidupan masyarakat Nusantara, serta banyak menjelaskan alasan mengapa kemudian terbentuk negara modern bernama Indonesia.

Para Indonesianis Eropa, semisal Dennys Lombard, Anthony Johns, Edwin P Wieringa, Martin van Bruinessen, Henri Chambert-Loir, Willem van der Molen, Annabel Teh Gallop, Jan van der Putten, Peter Riddell, Michael Laffan, dan lainnya telah sering menunjukkan riset-riset untuk mengungkap sejarah dan faktor-faktor apa saja yang memberikan kontribusi terbentuknya wajah Indonesia hari ini.

Sumber-sumber yang mereka pakai adalah manuskrip kuno berbahasa Melayu, Jawa, Arab, dan Belanda yang membentang dan tersedia sejak abad 16.

Naskah-naskah masterpiece Indonesia semisal Serat Centini, Serat Cebolek, Negarakertagama, Babad Diponegoro, I la Galigo, naskah obat-obat tradisional, naskah takwil gempa, dan ribuan lainnya begitu dibanggakan dunia, tapi tidak pernah secara sistematis diperkenalkan dalam kurikulum sejarah untuk anak-anak kita.

Perlu Ditulis Ulang!
Buku-buku ajar sejarah di sekolah perlu ditulis ulang! diperkaya dengan pengenalan terhadap melimpahnya sumber-sumber primer yang menjelaskan ration d’etre kita sebagai bangsa Indonesia, dan belajar dari siklus kehidupan masa silam, untuk membangun Indonesia yang lebih arif dan tidak pelupa.

Ya, anak-anak kita tidak boleh menjadi pelupa! Mereka bisa diajak memahami misalnya bahwa meski tidak semua peristiwa gempa bumi besar, tsunami, dan letusan gunung merapi di Indonesia terekam dalam memori tulisan tangan, akan tetapi beberapa naskah kuno yang tercecer dan tersisa, lebih dari cukup menceritakan kedahsyatan bencana alam tersebut berikut akibat yang ditimbulkannya.

Naskah Bo’ Sangaji Kai di Bima sebagai contoh, menjadi salah satu sumber terpenting sejarah petaka meletusnya Gunung Tambora pada 11 April 1815, yang telah menyebabkan sejarah kelam Eropa tanpa musim panas setahun kemudian.

Bahkan dahsyatnya tsunami pasca letusan Gunung Krakatau pada Agustus 1883 pun tak luput dari lukisan sastrawan Betawi, Muhammad Bakir, ketika menulis sastra imajinatif Hikayat Merpati Mas.

Khusus terkait sejarah Islam Nusantara, sejarahwan Azyumardi Azra (1992) telah membuktikan manfaat naskah kuno untuk merekonstruksi sejarah pemikiran Muslim Nusantara, dan jaringan intelektual mereka dengan elit Muslim di Makkah dan Madinah sejak abad ke-16.

Selain itu, naskah-naskah kuno kita diyakini oleh Anthony Johns sebagai sumber primer untuk memahami karakter Islam kita yang ramah, santun, dan toleran. Berbeda dengan gambaran Islam yang keras dan penuh konflik di wilayah dunia Muslim lain.

Johns (1976: 55) secara tegas menyebut: “…It is works such as these that the Muslim elite wrote for themselves and each other. It is from a study of such works in their regional settings that a clearer and perhaps more worthy understanding of Islam in Southeast Asia may be won…”.

Print This Page

Susahnya Mengurus Naskah Kuno

January 21, 2014
photo by PKPM Aceh

Pada akhir tahun lalu, kita disuguhi berita-berita di sejumlah media yang “ngeri-ngeri sedap” terkait pelestarian naskah kuno di Perpustakaan Nasional. “Ngeri” karena bukan berita baik, tapi “sedap” karena memberi inspirasi untuk semakin berbenah.

Di antara berita-berita tersebut antara lain tentang belum maksimalnya Perpustakaan Nasional dalam merawat ribuan naskah kuno, dan tentang pentingnya berbagai pihak mengupayakan beasiswa kuliah tingkat lanjut untuk bidang ilmu Filologi. Meski sebatas berita kecil yang “nyempil” di koran besar dan mungkin tidak terlalu mendapat perhatian dari pembaca, ada pesan penting terkait nasib warisan budaya kita.




Inti berita yang mungkin saja membuat sebagian pemangku jabatan di Perpusnas itu meradang justru bersumber dari pengakuan jujur dan berani dari Kepala Pusat Preservasi Bahan Pustaka Perpusnas, Sri Sumekar, sendiri dalam sebuah Seminar bahwa hampir separuh (46,3 persen) dari 9.764 naskah kuno koleksi Perpusnas kini rusak akibat salah urus. 

Meski turut prihatin, saya sendiri sebetulnya tidak terlalu tercengang dengan kondisi itu, karena dengan beban sebagai lembaga Negara yang mendapat amanat Undang-undang untuk mengoleksi semua informasi karya tulis, cetak, dan karya rekam dalam berbagai media, dan dengan sumber daya manusia dengan spesialisasi tertentu yang terbatas, Perpusnas pasti kewalahan mengurus ribuan naskah kuno itu.


Karenanya, seyogyanya kita memberikan apresiasi kepada Sri Sumekar, yang telah membuka mata kita sebagai masyarakat yang juga “pewaris” naskah kuno itu sendiri bahwa Negara, melalui Perpusnas, belum maksimal melaksanakan amanat Undang-undang, sehingga ini membuka ruang keterlibatan publik untuk turut mendiskusikan solusinya.


Ketinggalan Kereta
Sebagai dokumen produk peradaban masyarakat sejak ratusan tahun lalu, naskah kuno menyimpan ragam informasi dan kearifan lokal yang menggambarkan sejarah kebhinekaan Indonesia, ada lebih dari 20 bahasa daerah yang digunakan.

Namun, berdasarkan pengalaman “blusukan” ke kantong-kantong naskah di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan lainnya, hampir dapat dipastikan bahwa kondisi naskah yang tersimpan di tangan masyarakat jauh lebih memprihatinkan dan lebih tidak terawat ketimbang koleksi Perpusnas.


Dibanding benda cagar budaya lainnya, naskah kuno memang lebih rentan rusak, baik akibat kelembaban udara dan air (high humidity and water), dirusak binatang pengerat (harmful insects, rats, and rodents), ketidakpedulian, bencana alam, kebakaran, pencurian, serta ditambah dengan aktifitas jual beli naskah ke Mancanegara, yang masih kerap terdengar terjadi di lapangan.


Masalahnya, dalam upaya pelestarian dan pendayagunaan naskah kuno itu, kita betul-betul ketinggalan kereta. Konservasi naskah kuno membutuhkan ahli restorasi terlatih dan profesional dengan jumlah memadai, bukan sekedar staf alakadarnya yang diperbantukan. Komposisinya pun harus proporsional dengan jumlah koleksi naskah. Celakanya, sampai kini, Indonesia tidak memiliki institusi pendidikan terstruktur di bidang konservasi dan restorasi, sehingga kita tidak pernah “memproduksi” ahli restorasi sendiri secara terstruktur dan sistematis!


Begitu pula dalam hal pelestarian dan pendayagunaan naskah kuno melalui teknologi digital. Meski sampai 2013 Perpusnas telah menyelenggarakan Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) sampai enam kali, akses online digital terhadap ratusan naskah Indonesia, malah lebih dahulu disediakan oleh the British Library melalui Program the Endangered Archives Programme, sehingga kredit dunia akademik internasional pun menjadi “hak” mereka.

Saatnya Berbenah
Alih-alih disesali, kejujuran Sri Sumekar dalam mengungkap “salah urus” pelestarian naskah kuno di Perpusnas lebih baik dijadikan sebagai momentum kita bersama untuk merumuskan strategi yang lebih baik dalam melestarikan naskah kuno sebagai warisan budaya yang mempunyai nilai penting bagi kebudayaan nasional, sejarah, dan ilmu pengetahuan sesuai amanat Undang-undang Perpustakaan Nomor 43 2007.

Pertama, struktur lembaga yang mengurus naskah kuno harus dibenahi. Perlu manajemen satu pintu yang dibuat khusus, tidak digabung dengan dokumen lain, untuk mengintegrasikan aktifitas pengadaan, pendaftaran, konservasi, restorasi, digitalisasi, pendayagunaan, dan kajian naskah kuno. Aktifitas yang saya sebut terakhir sekarang ini belum mendapat prioritas dalam struktur kelembagaan di Perpusnas. Telaah dan penelitian naskah kuno seolah cukup diserahkan saja kepada civitas akademika di Perguruan Tinggi.


Ini mengapa Perpusnas mungkin tidak pernah merasa perlu memberikan beasiswa kepada tenaga fungsionalnya untuk studi filologi dan menyiapkan ahli-ahli pembaca bahasa kuno, yang semakin hari semakin langka. Ini juga antara lain yang menyebabkan katalogisasi naskah kuno koleksi Perpusnas mandeg, sementara koleksi naskahnya terus bertambah.


Aktifitas riset yang mungkin belum menjadi prioritas pula yang mungkin menyebabkan Perpusnas hingga kini belum memiliki sebuah pangkalan data naskah yang komprehensif serta mampu menyediakan informasi sistematis terkait naskah-naskah kuno unggulan bernilai sejarah tinggi, atau informasi berbagai penelitian yang pernah dilakukan atas sebuah naskah. Padahal, data-data hasil riset semacam itu akan sangat membantu saat Indonesia, misalnya, ingin mengajukan sebuah naskah bersejarah sebagai Memory of the World di UNESCO.


Kedua, Perpusnas, atas nama Negara, perlu mencanangkan “National Mission for Indonesian Manuscripts”, untuk membangunkan kesadaran kolektif bahwa naskah kuno Indonesia berada pada kondisi kritis, dan pelestariannya menjadi tanggungjawab bersama seluruh komponen masyarakat termasuk peneliti, budayawan, lembaga asosiasi, serta para pemilik naskah. Apalagi, Indonesia semakin hari semakin rawan bencana. Bukan hal yang mustahil jika sudah banyak naskah warisan budaya kita yang hanyut terbawa banjir bandang!


Akan tetapi, semuanya harus dikordinasikan oleh sebuah manajemen saja yang sinergis dan terpadu, jangan sampai antarsatu lembaga dengan lembaga lain mengeksekusi program naskah, seperti digitalisasi, yang sama dan tumpang tindih di lapangan.


Saya masih yakin, sebagai bangsa yang besar, kita tidak akan pernah melupakan dan menganaktirikan kekayaan warisan budaya yang bahkan tidak dimiliki oleh setiap bangsa di dunia ini. Semoga.



Oman Fathurahman

Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)
Dosen FAH UIN Jakarta

Aceh, Banten, dan Mindanao 2 (plus Cirebon)

August 26, 2013
a page of manuscript in SMS collection

Tulisan ini terbit di Koran Nasional Republika, Jumat 23 Agustus 2013.

Saya pernah menulis artikel tentang informasi awal jaringan keilmuan Islam antara Aceh, Banten, dan Mindanao (Republika, 8 Maret 2012). Tulisan itu saya sarikan setelah membaca sepintas beberapa manuskrip koleksi Sheik Muhammad Said bin Imam sa Bayang di Marawi City, Mindanao.

Ketika ngaji lebih rinci halaman per halaman keseluruhan 43 manuskrip yang menjadi inspirasi utama tulisan itu, ternyata lebih gamblang lagi betapa kokohnya jalinan Muslim Maranao dengan kedua wilayah di Indonesia masa lalu itu, dan ditambah Cirebon.

Tulisan ini saya anggap saja refleksi tentang Aceh, Banten, dan Mindanao (plus Cirebon) jilid dua, meski kali ini tidak akan ada ulasan terkait Aceh, tapi ingin bercerita lebih jauh betapa ilmu yang dipelajari dari Banten oleh Muslim Maranao ternyata tidak sebatas tasawuf dan tarekat ajaran Syekh Abdul Qohar atau Syekh Abdul Syakur, melainkan juga ilmu kebal dan debusnya.

Tentang ilmu yang terkenal di Banten itu, naskah Maranao menyebutnya “ilmu tabaruk”, termasuk ajian Braja Lima dan Braja Sembilan, lengkap dengan rajah-rajah, isim, serta petunjuk “…puasa tujuh isnain dan tujuh khamis dan mandi tiga purnama…”.

Dengan gamblang pula naskah Maranao menjelaskan bahwa “ilmu tabaruk” ini berasal dari “…kyai masih orang Banten di Karang Tanjung nama kampungnya maka mengajar ia kepada Tuan Haji Basaruddin orang Malimdanaw…”.

Entah siapa Kyai Banten yang dimaksud, yang jelas di Kampung Karang Tanjung Pandeglang memang banyak kyai jawara semisal Syekh Abdul Jabbar, yang sampai kini makamnya dikeramatkan. Mungkin karena saat itu Muslim Maranao berada dalam situasi perang sabil melawan kafir Spanyol dan Amerika, mereka merasa perlu belajar ilmu-ilmu kanuragan itu dari Banten, yang saat itu juga berada dalam tekanan Kolonial Belanda.

Saking populernya ilmu kanuragan dan ilmu hikmah di kalangan Muslim Maranao abad 18-19, sebelas prosen dari keseluruhan naskah koleksi Sheik Muhammad Said ini berisi doa-doa, ajimat, wafak dan sejenisnya, padahal naskah tasawuf saja hanya sepuluh prosen, sementara fikih sembilan prosen, dan Tauhid tujuh prosen.

Cerita-cerita dan informasi dalam naskah kuno koleksi Sheik Muhammad Said di Marawi City ini sudah sepatutnya dijadikan sebagai petunjuk awal mengorek lebih jauh sejarah hubungan Muslim Maranao dan Banten.

Saya membayangkan bahwa dulu ada “santri’ Maranao yang ngaji sorogan ke Kyai Banten. Di salah satu halaman naskah fikih berjudul al-Mustahal misalnya, saya menjumpai coretan-coretan pinggir menggunakan tinta Cina dengan posisi miring ke berbagai posisi khas santri pesantren. Salah satu coretan tersebut diakhiri kalimat “…min [dari] Syekh Abdul Jalal rahmatullah ‘alayhi, Qadi Banten…”.

Teman saya, Tubagus Aceh Hasan Syadzily yang tulen mewarisi trah kyai Banten mengakui bahwa ia belum pernah mendengar nama sang Kyai itu, tapi menilik embel-embelnya sebagai Qadi Banten, pasti ia seorang berpengaruh dan berilmu fikih tinggi masa itu.

Bagaimana dengan Cirebon? Saya memang belum menjumpai bukti meyakinkan terjalinnya hubungan keilmuan langsung dengan Muslim Maranao di Mindanao. Tapi, teks silsilah Syatariyah Syekh Abdul Qohar berbahasa Jawa koleksi Elang Panji di Cirebon, ternyata sangat mirip dengan teks silsilah Syekh Abdul Qohar versi Melayu yang dijumpai dalam koleksi Sheik Muhammad Said.

Silsilah Syekh Abdul Qohar di Cirebon ini tergolong unik karena jalurnya tidak melalui Abdurrauf Singkel atau Ibrahim al-Kurani, melainkan Syekh Salih Khatib, yang berguru langsung ke al-Qusyasyi di Madinah. Dalam keunikan inilah Cirebon dan Maranao ketemu.

Itulah sebagian kecil penggalan sejarah peradaban saudara-saudara Muslim Maranao yang terkait dengan kita, dan terekam dalam naskah-naskah koleksi Sheik Muhammad Said bin Imam sa Bayang. Profesor KAWASHIMA Midori dan saya tengah menyiapkan publikasi lengkapnya akhir tahun ini.

Yang jelas, naskah-naskah kuno Nusantara seperti contoh di atas seringkali menyimpan sejarah peradaban masyarakatnya yang belum banyak kita ketahui, termasuk peradaban Melayu Islam Indonesia.

Saya sering miris karena sebagian ahli waris naskah malah lebih suka menjajakan dan menjual ketimbang ngaji isinya, termasuk yang pernah ditawarkan oleh seorang pengirim dari Banten ke inbox email saya, meski saya sarankan untuk merawat dan mengajinya saja.

Memahami Pribumisasi Islam Melalui Kitab Seribu Masalah

May 23, 2013

Book Review

Ronit Ricci, Islam Translated: Literature, Conversion, and the Arabic Cosmopolis of South and Southeast Asia, Chicago and London: The University of Chicago Press, xxii + 316 halaman, 2011.

———-
Versi lengkap artikel ini terbit di Studia Islamika, Vol. 19 No. 3, 2012.
———-

Salah satu persoalan serius yang sering dihadapi oleh mahasiswa atau peneliti yang melakukan kajian tekstual atas sebuah teks adalah kekurangmampuan menempatkan teks yang dikajinya dalam sebuah kerangka teori dan perspektif tertentu yang cocok, serta menempatkan analisisnya dalam konteks yang lebih luas.

Padahal, kemampuan memilih kerangka teori yang tepat serta analisis kontekstual itulah salah satu yang dapat menuntun peneliti untuk sampai pada sebuah simpulan tajam dan kontributif dalam bidangnya.

Pada saat yang sama, para peneliti dan mahasiswa pribumi juga sering kurang memanfaatkan sumber-sumber tekstual berupa manuskrip dalam mengkaji fenomena Islam Indonesia. Padahal, sumber-sumber tersebut banyak tersedia dalam berbagai bahasa lokal seperti Melayu, Jawa, Sunda, Bugis-Makassar, Wolio, dan lainnya. Mereka niscaya tidak akan menemui kesulitan jika mau membaca manuskrip-manuskrip dalam bahasa-bahasa lokal tersebut.

Buku Islam Translated yang ditulis oleh Ronit Ricci dapat menjadi salah satu rujukan contoh ideal bagaimana seyogyanya kajian sebuah teks, dan kajian Islam lokal, dilakukan. Melalui telaah atas transformasi tekstual, konsep, citra, dan genre sebuah teks Arab Kitab Seribu Masalah ke dalam tiga tradisi bahasa, yakni: Jawa, Melayu, dan Tamil, Ricci berhasil menunjukkan bagaimana proses terjadinya metamorfosis bahasa Arab, dan karya sastra Arab, ke dalam tradisi bahasa dan budaya lain, serta membuktikan lahirnya sebuah tradisi Islam baru melalui penerimaan pembaca lokal terhadap teks-teks transformatif tersebut, tanpa mengurangi superioritas tradisi asalnya, Arab.


Ricci membangun kerangka teorinya dengan mengelaborasi teori Sanskrit Cosmopolis yang diperkenalkan oleh Sheldon Pollock menjadi Arabic Cosmopolis dalam konteks penelitiannya. Melalui teori Sanskrit Cosmopolis tersebut, Pollock menelaah bagaimana proses terjadinya transisi penggunaan bahasa Sanskrit yang memiliki status unik baik secara politik maupun budaya, menjadi bahasa dan teks lokal yang muncul di Asia dan Asia Tenggara (h. 13).

Ricci, yang melihat adanya kosmopolitanisme bahasa Arab di wilayah yang sama dengan Pollock, kemudian menyajikan berbagai argumen bahwa bahasa Arab —yang juga diyakini oleh Muslim memiliki status unik sebagai “bahasa Tuhan”— telah menjadi salah satu elemen utama terjadinya kosmopolitanisme Islam di Asia dan Asia Tenggara, di mana Muslim setempat mengadopsi aksara Arab, menjadi aksara Jawi dan Pegon misalnya, menyerap berbagai istilah dari bahasa Arab dalam komunikasi sehari-hari, berdoa dengan bahasa Arab, serta membangun peradaban keberaksaraan dan intelektualisme Islamnya melalui bahasa tersebut (h. 14).

Sedikit berbeda dengan para peneliti Islam Asia Tenggara, yang biasanya menonjolkan lahirnya “Islam lokal” dalam proses penerjemahan bahasa dan teks-teks Arab, Ricci justru menggarisbawahi sisi yang lain, yakni bahwa proses lokalisasi, adaptasi, dan pribumisasi yang sedemikian beragam terhadap bahasa dan teks Arab, tidak menghilangkan konteks Arabnya.

Justru, melalui tokoh Abdullah bin Salam dalam Kitab Seribu Masalah yang menjadi korpus kajiannya, Ricci menunjukkan bahwa dalam hal konversi dan islamisasi, masyarakat Muslim di Asia dan Asia Tenggara, tetap mengikatkan dirinya pada konteks Arab dalam kisah tersebut, bahkan superioritas bahasa Arab pun semakin diperkuat melalui penggunaan sejumlah kata atau kalimat Arab yang sama sekali dirasa tidak perlu diterjemahkan (h. 129).

Lebih jauh, adaptasi teks-teks Melayu dan Jawa atas konsep-konsep dan istilah yang berasal dari bahasa Arab telah menghubungkan Muslim di wilayah ini dengan dunia yang lebih luas, Arab-Islam, melalui jaringan keilmuan dan kepercayaan yang diyakini bersama-sama. Fenomena inilah yang ia maksudkan sebagai Arabic Cosmopolis.

Meski demikian, Ricci secara tegas juga mengemukakan adanya perbedaan konsep cosmopolis bahasa Arab yang ia pakai, dengan konsep cosmopolis bahasa Sanskrit yang diperkenalkan oleh Sheldon Pollock tersebut, terutama karena bahasa Arab, berbeda dengan Sanskrit, tersebar di Asia dan Asia Tenggara melalui sebuah agama tertentu, yakni Islam, sehingga memiliki status yang sangat otoritatif dalam menghasilkan teks-teks turunannya dalam bahasa Jawa, Melayu, dan Tamil.

Kerangka inilah yang digunakan oleh Ricci untuk menganalisis Kitab Seribu Masalah di keseluruhan bagian buku ini.

Islamisasi dan Literary Networks 
Membaca buku ini, saya serasa diajak untuk memahami kompleksitas persebaran Islam di wilayah Asia dan Asia Tenggara melalui kacamata yang berbeda, sastra.

Untuk konteks Asia Tenggara, misalnya, proses islamisasi dan persebaran Islam, khususnya pada abad ke 17 dan 18 yang sering didiskusikan adalah terkait jaringan ulama dengan berbagai karangan kitabnya dalam berbagai bidang keilmuan Islam, seperti tasawuf, fikih, tafsir, hadis, tauhid, dan lain-lain.

Topik ini telah mendapat perhatian dan pembahasan yang sangat mendalam dari Azyumardi Azra. Meski secara substantif Azra juga mengandalkan teks-teks tertulis dalam berbagai bahasa lokal, khususnya Melayu, untuk menggambarkan terjadinya vernakularisasi Islam, akan tetapi mungkin baru Ricci dalam buku ini yang secara spesifik menawarkan penggunaan istilah literary networks (jaringan sastra) untuk menggambarkan saling-silang hubungan Muslim Asia dan Asia Tenggara dengan tradisi dan budaya lain melalui teks-teks kesusastraan.

Literary networks yang dimaksud Ricci jelas sangat kompleks dan luas karena mencakup “…shared texts, including stories, poems, genealogies, histories, and treatises on a broad range of topics, as well as the readers, listeners, authors, patrons, translators, and scribes who created, translated, supported, and transmitted them…” (h. 2).

Istilah literary networks dapat memperkaya nomenklatur network yang selama ini telah sering dipakai ketika mendiskusikan sejarah awal Islam di Asia Tenggara dalam konteks Sufi, tarekat, perdagangan, atau militer.

Dalam konteks Asia Tenggara, sejumlah sumber terdahulu telah mengkonfirmasi betapa sejarah islamisasi di wilayah ini telah mewariskan khazanah teks-teks tertulis, baik yang bersifat sastra maupun keagamaan, dalam jumlah besar.

Sebagian besar teks-teks Melayu dan Jawa misalnya (saya tidak memiliki pengetahuan terkait khazanah teks-teks Tamil yang dibahas dalam buku ini), memperlihatkan pengaruh Arab dan Islam yang sangat kuat. Telaah komparatif atas teks-teks tersebut niscaya akan memberikan pengetahuan tentang sejarah Islam lokal, kekhasan unsur-unsur lokal dalam sebuah teks dibandingkan unsur dalam bahasa aslinya, serta mengungkap signifikansi proses transmisi dan penerjemahan yang dilakukan oleh aktor Muslim setempat.

Itulah yang berhasil dilakukan dengan sangat baik oleh Ronit Ricci dalam buku ini. Kitab Seribu Masalah menjadi “sekedar” pintu masuk Ricci untuk mengeksplorasi proses dan tradisi penerjemahan serta konversi yang terjadi di wilayah Asia dan Asia Tenggara.

Model kajian Ricci, yang memanfaatkan sebuah teks sastra untuk membaca kompleksitas sejarah dan proses konversi di suatu wilayah ini, jelas menjadi preseden penting dan seharusnya memberikan inspirasi bagi penelitian-penelitian lain dengan memanfaatkan korpus karya sastra lain yang masih banyak tersedia.

Ricci memang tidak sedang melakukan sebuah penelitian filologis terhadap Kitab Seribu Masalah, sehingga pembaca tidak akan menjumpai edisi teks lengkap karya tersebut dalam buku ini. Bahkan salah satu Kitab Seribu Masalah versi Arab yang ia rujuk pun bukan berupa manuskrip, melainkan teks cetak yang diterbitkan di Kairo yang berjudul Kitāb Masā’il Sayyidi ‘Abdallāh Bin Salām Lin-Nabī (h. 36).

Akan tetapi, ketekunan Ricci dalam memperhatikan kata yang digunakan untuk menggambarkan aktifitas penerjemahan dalam setiap tradisi teks yang dikajinya, mengingatkan saya pada tradisi kerja filologis. Dalam tradisi teks Jawa misalnya, Ricci mengidentifikasi beberapa istilah yang digunakan untuk menggambarkan makna “penerjemahan”, seperti njawakaken, binasakaken Jawa, nembangaken, njarwani, njarwakaken, dan jinawakaken.

Adapun dalam tradisi Melayu, beberapa istilah yang diidentifikasi Ricci antara lain: dipindahkan, menyalin, menterjemahkan, diceriterakan, dan diperkatakan. Selain itu, melalui buku ini, para filolog tampaknya juga dapat “belajar” bagaimana membunyikan sebuah teks yang sedang disuntingnya, dengan memilih sebuah kerangka teori yang tepat, dan kemudian melakukan kontekstualisasi untuk menggali makna ekstrinsik teks tersebut.

Tentu saja fokus utama sebuah penelitian filologi adalah menyajikan edisi kritis sebuah teks, akan tetapi, dalam beberapa tahun belakangan ini, kecenderungan model kajian filologi tampaknya tidak lagi berhenti pada penyediaan teks “bersih” yang siap baca saja, melainkan juga menghidupkan teks tersebut melalui analisis konteksnya.

Kitab Seribu Masalah sendiri berisi kisah seorang pemuka Yahudi abad ke-7 bernama Abdullah bin Salam, yang mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Nabi Muhammad terkait berbagai masalah keagamaan. Singkat cerita, setelah menerima jawaban Muhammad yang sangat meyakinkan, Abdullah bin Salam pun menyatakan memeluk agama Islam.

Selain versi Arab cetakan Kairo, Ricci memanfaatkan sejumlah manuskrip dan edisi teks Kitab Seribu Masalah berbahasa Jawa, Melayu, dan Tamil dengan beragam judul masing-masing, seperti Samud, Seh Ngabdulsalam in Suluk Warna-Warni, Seh Samud, Serat Samud, Suluk Seh Ngabdulsalam, Hikayat Seribu Masalah, dan Āyira Macalā.

Penelusuran Ricci atas sumber-sumber yang terkait dengan Kitab Seribu Masalah juga cukup meyakinkan. Ia misalnya mengutip salah satu sumber Arab paling otoritatif yang menceritakan pertemuan Abdullah bin Salam dengan Nabi Muhammad, yakni Sīrāt Rasūl Allāh atau yang juga dikenal sebagai al-Sīrah al-nabawīyah karya Muḥammad Ibn Isḥāq ibn Yasār ibn Khiyār /d. 767 (h. 217).

Arab, Jawa, Melayu, Tamil, dan Parsi: Saling-silang Hubungan Tradisi
Adalah tidak mungkin untuk memberikan catatan atas keseluruhan bagian buku ini, yang sesungguhnya semuanya sangat menarik dan penting didiskusikan. Perlu beberapa “kacamata” untuk mengulasnya: linguistik, kajian Islam, filologi, sejarah, sastra, teori terjemahan, dan mungkin disiplin ilmu lainnya. Buku ini memang telah menarik sarjana terkait untuk mengulasnya.

Saya pun hanya memilih beberapa bagian saja yang sesuai dengan kacamata yang bisa saya pakai. Salah satu bagian yang menarik perhatian saya adalah ketika Ricci berupaya merajut saling-silang hubungan satu tradisi dengan tradisi lainnya, dalam hal ini: Arab, Jawa, Melayu, Tamil, dan Parsi, melalui Kitab Seribu Masalah.

Apa yang dilakukan Ricci, lagi-lagi, mengingatkan saya pada sebuah aktifitas kritik teks (textual criticism) yang dalam tradisi Filologi klasik dikenal dengan metode Stemma, yang pertama kali diperkenalkan oleh sarjana Jerman Karl Lachmann (1793-1851), dan kemudian diformulasikan secara teoritis oleh Paul Maas (1880-1964).

Metode tersebut meniscayakan beberapa tahap kritik teks yang sangat rijid, seperti recensio (pemilahan teks yang paling dekat dengan aslinya), examinatio (pengujian teks), dan emendation (proses menyisihkan bagian teks yang dianggap “tidak terpercaya”).

Jelas, Ricci tidak sedang menerapkan metode kritik teks Lachman ketika menelusuri keterkaitan antartradisi teks Kitab Seribu Masalah, melainkan “hanya” mengidentifikasi sejumlah informasi internal teks dan terjemahan yang mengindikasikan hubungan satu tradisi teks dengan tradisi teks lainnya.

Akan tetapi, dengan melakukan itu, Ricci sadar betul bahwa merajut saling-silang hubungan antartradisi teks itu penting dilakukan untuk menunjukkan adanya keberlangsungan tradisi Arab dalam teks-teks turunannya, yang pada gilirannya akan menguatkan argumennya sendiri tentang Arabic Cosmopolis.

Dalam konteks penelitiannya ia mengatakan: “Drawing a link between early Arabic tellings and those in Tamil, Javanese, and Malay is important if we are consider such later tellings as translations—however broadly defined—of an Arabic source.” (h. 39-41).

Kesimpulan Ricci terkait saling-silang hubungan tradisi Arab, Jawa, Melayu, dan Tamil melalui Kitab Seribu Masalah barangkali bisa menjadi topik yang menarik untuk didiskusikan dalam konteks jaringan tradisi keilmuan dan kesusatraan yang lebih luas.

Menurutnya, selain petunjuk yang menegaskan bahwa tradisi Jawa juga menerima pengaruh langsung dari tradisi Arab (h. 68), teks Kitab Seribu Masalah juga memberikan informasi penting bahwa tradisi Parsi cukup menonjol sebagai inspirasi munculnya teks yang sama dalam tradisi Tamil dan Melayu (h. 40), meski Ricci buru-buru menambahkan bahwa munculnya tradisi Parsi tidak serta merta mengindikasikan adanya hubungan geografis langsung dengan wilayah Persia yang kini bernama Iran tersebut, karena sejak abad ke-17, teks-teks berbahasa Parsi juga banyak diproduksi di India Selatan, wilayah yang terbukti memiliki hubungan langsung, baik secara ekonomi maupun keilmuan, dengan dunia Melayu-Nusantara, khususnya Aceh (h. 132).

Kendati demikian, munculnya motif bahasa Parsi secara konsisten dalam sejumlah besar teks Kitab Seribu Masalah versi Melayu seperti dikemukakan Ricci (h. 131), dapat membuka lagi diskusi tentang sejauh mana pengaruh Syiah, yang sering diidentikkan dengan tradisi Persia tersebut, dalam sejarah kesusastraan Islam Melayu-Nusantara.

Seperti diketahui, dibanding teks-teks dengan ideologi Sunni, tidak mudah kiranya menjumpai jejak-jejak Syiah dalam tradisi kesusastraan dan keilmuan Islam di Nusantara, meski sebagian kecil teks dapat memberikan petunjuk.

Selain Jawa, Melayu, dan Tamil yang menjadi korpus penelitian Ricci, cerita Abdullah bin Salam dalam Kitab Seribu Masalah tampaknya juga hadir dan diadopsi dalam tradisi lain, seperti Sunda misalnya. Salah satu naskah versi Sunda berjudul Wawacan Sual Sarebu (SD 167), tersimpan dalam koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta, sementara teks serupa (SD 48) dalam koleksi yang sama, didaftarkan sebagai Carios Iblis sareng Nabi Muhammad (saya menghaturkan terima kasih kepada Sdr. Aditya Gunawan yang memberikan informasi tentang naskah-naskah Sunda ini).

Tidak dilibatkannya tradisi Sunda dalam lingkup pembahasan buku ini menjadi peluang tersendiri bagi peneliti lain yang ingin mengkajinya dalam konteks tradisi Sunda, dan mungkin dengan perspektif yang berbeda. Gambaran tentang jenis pengaruh yang masuk ke dalam tradisi teks Melayu seperti tercermin dalam Kitab Seribu Masalah semakin menegaskan perbedaannya dengan teks-teks keagamaan dalam tradisi yang sama.

Seandainya Kitab Seribu Masalah dapat dianggap sebagai representasi dari teks-teks jenis sastra, maka kita bisa mengambil asumsi lebih jauh bahwa pengaruh Parsi sejauh ini memang hanya terlihat dalam teks-teks Melayu jenis sastra, semisal Hikayat Muhammad Hanafiyah, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Bayan Budiman, Taj al-Salatin, dan lain-lain. Adapun untuk teks-teks Melayu dan Jawa yang berisi ajaran Islam, seperti fikih, tasawuf, tafsir, dan lain-lain, pengaruh Parsi nyaris tidak terlihat karena tradisi Arab terlalu menonjol.

Ungkapan yang lazim ditemui dalam teks-teks Islam Melayu misalnya terdapat dalam pengantar Bidāyat al-mubtadī bi-faḍl Allāh al-muhdī sebagai berikut: “…maka kutaklifkan dan kujawikan risalah ini daripada segala kitab Arabi yang fasahah kepada bahasa Jawi yang baik-baik…”. Ungkapan semacam itu secara eksplisit menegaskan teks dan tradisi Arab lah yang menjadi sumber inspirasinya.

Jika dihubungkan dengan konsep Arabic Cosmopolis yang dikemukakan Ricci dalam buku ini, barangkali fenomena teks-teks keislaman dalam tradisi Melayu dan Jawa lebih jelas memperlihatkan superioritas tradisi Arab. Bahkan seandainya asal sebuah teks Islam tersebut dari India, tradisinya akan sampai ke dunia Melayu melalui tradisi Arab.

Contoh atas hal ini adalah teks al-Tuḥfah al-mursalah ilá al-Nabī ṣallá Allāhu ‘alayhi wa-sallama yang ditulis oleh seorang ulama India, Faḍl Allāh al-Hindī al-Burhānfūrī (w. 1620), pada tahun 1590, berkaitan dengan doktrin martabat tujuh yang sempat sangat populer di kalangan masyarakat Muslim di dunia Melayu-Nusantara.

Berdasarkan sejumlah hasil penelitian terdahulu, teks al-Tuḥfah al-mursalah tidak langsung datang dari India, melainkan melalui kontak intelektual antara Muslim Nusantara dengan para ulama di Mekah dan Madinah. 

Teks Arab-India tersebut telah diterjemahkan ke dalam tradisi Melayu oleh ‘Abd al-Ṣamad al-Falimbānī menjadi al-Mulakkhaṣ ilá al-tuḥfah, diterjemahkan ke dalam tradisi Jawa dalam bentuk tembang, serta melahirkan teks-teks lain berupa komentar (sharḥ) yang ditulis oleh ulama Nusantara, seperti Sharḥ al-mawāhib al-mustarsalah ‘alá al-tuḥfah al-mursalah, yang menurut penelitian awal Ismail Yahya, kemungkinan dikarang oleh Shaykh Ibrahim al-Ashi, seorang ulama Syria yang tinggal di Aceh pada awal abad 17.

Khatimah
Saya ingin mengakhiri tinjauan buku Islam Translated sampai di sini, dan mempersilahkan pembaca yang tertarik mengetahui lebih detil untuk membaca bukunya.

Artikel ini merupakan review pertama atas buku tersebut untuk pembaca Indonesia. Meski agak terlambat jika dilihat dari tahun penerbitannya (2011), saya berharap bahwa buku tersebut dapat memberikan inspirasi untuk penguatan kajian Islam Indonesia melalui sumber-sumber primer berupa manuskrip, baik dengan pendekatan filologis, sastra, sejarah, maupun lainnya.

Saya ingin mengakhiri diskusi ini dengan mengatakan bahwa ketika Islam telah tersebar, diadopsi, serta diterjemahkan ke dalam beragam tradisi dan budaya seperti sekarang ini, maka model kajian komparatif seperti yang dilakukan oleh Ronit Ricci dalam Islam Translated menjadi sangat penting dan kontributif.

Sejarah panjang islamisasi dan konversi telah melahirkan banyak peradaban Islam, termasuk di Asia Tenggara, baik peradaban tertulis maupun tidak tertulis. Pandangan monolitik atau perdebatan terkait asal-usul sumber datangnya Islam ke wilayah ini, atau perspektif central-peripheral yang mendikotomikan Islam di Mekkah-Madinah sebagai “asli” dan Islam di tempat lainnya sebagai “tidak murni”, menjadi tidak lagi relevan.

Tentu saja, ini tidak berarti bahwa pengetahuan tentang bukti-bukti awal islamisasi menjadi tidak penting, justru sumber-sumber semacam itulah yang dapat menuntun kita untuk mengetahui seberapa kuat dan luas jaringan Islam yang terbentuk di suatu wilayah.

Hanya saja, seperti dikemukakan Michael Feener, terus-terusan mempertahankan pemahaman monolitik terkait teori asal-usul islamisasi, bukan saja sulit diverifikasi secara empiris, melainkan juga dapat menjebak kita pada perdebatan politik identitas bagi kelompok keagamaan dan etnis tertentu.

Inilah antara lain yang dikembangkan oleh Ronit Ricci dalam Islam Translated. Alih-alih melihat superioritas budaya pra-Islam atau bagaimana Islam datang ke wilayah Asia dan Asia Tenggara, Ricci lebih tertarik untuk melihat proses komunikasi, kontak, jaringan, diaspora, interaksi, dan transmisi yang terjadi di kalangan Muslim melalui beragam tradisi teks Kitab Seribu Masalah, sehingga pemahaman kita tentang Islam di wilayah ini menjadi lebih jernih, lebih kaya, lebih beragam, dan bahkan lebih bisa melihat betapa Islam telah sangat mengakar dalam tradisi dan budaya masyarakat Muslim di luar negeri asalnya.

Buku ini sangat layak dibaca oleh para pengkaji naskah Nusantara, terutama karena naskah-naskah sastra sejenis yang memperlihatkan pengaruh Islam masih banyak dijumpai. Dalam dunia digital seperti sekarang ini, akses terhadap teks lama pun semakin terbuka, hanya tinggal menunggu dedikasi akademis dan kesungguhan para peneliti saja untuk menggali nilai-nilai luhur yang terdapat dalam khazanah kebudayaan tertulis kita. Semoga.

Ahok, Betawi, Tionghoa, Islam, dan Rasa ke-Indonesia-an Kita

February 20, 2013

Silsilah Syatariyah Baba Jainan.
Courtesy: Cod. Or. 7274 ff.3v-r of Leiden University Library

Tampilnya Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, sebagai wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Jokowi, mengembalikan sebagian memori saya atas sejarah warga Tionghoa keturunan Cina yang faktanya sudah mendarah daging dalam sejarah Betawi (dulu Batavia) sejak abad 17 lalu.

Mengutip Valentijn, Susan Abeyasekere (1987: 24) dalam Jakarta A History menyebut: “…if there were no Chinese here, Batavia would be very dead and deprived of many necessities…”.

Antara 1619-1740, Batavia disebut oleh Leonard Blusse (1981: 160) sebagai a Chinese colonial town under Dutch protection, mungkin saking besarnya peran warga Tionghoa dalam perekonomian kota Batavia saat itu, meski pada akhir kurun waktu tersebut ada masa kelam dalam sejarah warga Tionghoa di Batavia khususnya.

Dalam bidang politik? Mungkin memang baru kali ini seorang Tionghoa “mengadu nasib” di kampung Bang Pitung. Waktulah yang akan menentukan, apakah kelak Betawi akan berhutang budi kepada seorang Ahok, atau lewat begitu saja seperti pejabat pribumi sebelumnya.

Read the rest of this entry »

Ithaf al-Dhaki by al-Kurani: A Critical Edition

July 30, 2012

Title: Ithaf al-Dhaki: Tafsir Wahdatul Wujud bagi Muslim Nusantara.
Author: Oman Fathurahman
The Publishers: Mizan and EFEO Jakarta, in cooperation with Yayasan Rumah Kitab and Institut Studi Islam Fahmina (ISIF).
Year of Publication: August 2012.
———-

After waiting for almost four years, a critical edition of the Itḥāf al-Dhakī, a Sufi treatise written by Ibrahim al-Kurani, will be published soon in early August. This book includes the Arabic text of the Itḥāf and its translation in Bahasa. I have written an introduction of the text and discussed its significance in the context of Indonesian Islam, Aceh in particular.

Following is the ‘original’ version of a foreword by Prof. Anthony H. Johns (Australian National University), which is not included in the book.
———-

The Itḥāf al-dhakī bi sharḥ al-Tuḥfah al-mursalah ilá al-Nabī, presented in this pioneering work of Dr. Oman Fathurahman has been part of my academic and even personal life for many years, and I am deeply indebted to it, and to its author, al-Kūrānī, for all I have learnt from it of the Islamic disciplines, and the spirituality and personality of its author.
Read the rest of this entry »

Oman Fathurahman: Pengembara Di Jagat Manuskrip

May 22, 2012
Kompas/Wawan H Prabowo

Rubrik Persona, Kompas, Minggu 20 Mei 2012.

Konten dikutip dari:[I:Boekoe].
—————

Pascabencana gempa dan tsunami Aceh, ribuan orang berdatangan memberi bantuan kemanusiaan. Oman Fathurahman (43) datang menyelamatkan kitab tua.

Oman tiba di Banda Aceh 20 hari pascatsunami yang terjadi 26 Desember 2004 pagi. Ketika itu kota sesak oleh ribuan orang yang membantu evakuasi korban. Ditemani rekannya, Hasnul Arifin Melayu, Oman bersepeda motor menembus lumpur, air, dan reruntuhan. Tujuan filolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu hanya satu: menyelamatkan naskah-naskah tua yang tersisa.
Selain menewaskan lebih dari 150.000 penduduk Aceh, tsunami juga menjarah banyak manuskrip kuno. Seratusan manuskrip koleksi Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) yang diidentifikasi Oman pada tahun 1999, misalnya, hilang tanpa bekas. Enam puluh manuskrip di Balai Kajian Sejarah Nilai Tradisional (BKSNT) dan mungkin ribuan naskah yang ada di tangan masyarakat juga lenyap.

Manuskrip sangat penting yang lenyap, antara lain, Bajan Tajalli karangan ulama Aceh Abdurrauf al-Sinkili, Qanun al Asyi atau Undang-Undang Aceh, dan kitab hadis pertama dalam bahasa Melayu karangan Nuruddin al-Raniri berjudul Hidayat al-habib fi al-targhib wa al-tarhib. Read the rest of this entry »

Aceh, Banten, dan Mindanao

March 10, 2012

Ilustrasi foto: halaman naskah rusak di Zawiyah Tanoh Abee Aceh

Artikel ini terbit di Republika, Jumat, 8 Maret 2012

Oman Fathurahman

Dosen FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua Umum Manassa(Masyarakat Pernaskahan Nusantara)Siapa mengira bahwa seorang ulama penting Kesultanan Banten pada abad ke 18, Abdullah bin Abdul Qahhar al-Bantani, adalah ternyata guru intelektual bagi sejumlah ulama Mindanao, Filipina Selatan pada masa lalu? Dan siapa sangka bahwa bagi Muslim Mindanao, Aceh pernah menjadi kiblat keilmuan Islam sejak ratusan tahun lalu?Nyatanya, begitulah yang terekam dalam beberapa manuskrip Islam Melayu di Marawi City, sebuah Kota berpenduduk 90% Muslim di Pulau Mindanao, yang baru terungkap setelah ratusan tahun terkubur dalam sejarah masyarakat Melayu di wilayah ini.
Read the rest of this entry »

Gempa, Manuskrip, dan Pemilukada di Aceh

January 16, 2012

Foto oleh Tim TUFS-MANASSA-PKPM: catatan tentang gempa dahsyat kedua di Aceh pada Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H/3 November 1832 M, MS Zawiyah Tanoh Abee No. 153/163/Fk-69/TA/2006.

Versi lebih ringkas tulisan ini terbit di Koran Republika, Sabtu 14 Januari 2012.

—————

Saya baru beberapa puluh menit saja memejamkan mata ketika gempa 7.1 skala Richter dan berpotensi tsunami di Aceh itu mengguncang pada Rabu (11/1-2012) pukul 01.36 WIB, dan membuat saya terbangun. Itu adalah malam pertama para tamu dari dalam dan luar negeri mendarat di Banda Aceh untuk sebuah international workshop bertemakan “From Anatolia to Aceh: Ottomants, Turks, and Southeast Asia” pada dua hari berikutnya. Workshop ini diselenggarakan oleh International Center for Aceh and India Ocean Studies (ICAIOS), bekerja sama dengan British Institute at Ankara, ASEASUK, dan Pemerintah NAD.

Topik gempa besar di Aceh yang sempat membuat kepanikan, terutama di Meulaboh, itu kemudian menghiasi obrolan kami saat sarapan pagi dan setiap coffee break, mulai dari obrolan ringan belaka sampai dikaitkan dengan kajian akademis. Fiona Kerlogue dari the Horniman Museum, Inggris, mengaku shock dan tidak bisa tidur sampai malam berikutnya, meski KAWASHIMA Midori dari Sophia University, Tokyo tampak tenang-tenang saja, mungkin karena di Jepang biasa terjadi gempa yang lebih besar…☺
Read the rest of this entry »

Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts

November 18, 2011

PPIM UIN Jakarta, on behalf of Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang dan Diklat, Ministry of Religious Affairs proudly presents the ‘trial version’ of the Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts (TIIM). The full version will be officially launched by the Ministry soon.

The TIIM is an online database designed by the Islamic Manuscript Unit (ILMU),
Center for the Study of Islam and Society (PPIM), Syarif Hidayatullah State
Islamic University (UIN) under supervision of Dr. Oman Fathurahman, and fully
supported by the Center for Research and Development of Religious Literatures
(Puslitbang Lektur Keagamaan), Indonesian Ministry of Religious Affairs (MORA).
Read the rest of this entry »